Pendidikan
Perayaan Dies Natalis Unnes Diwarnai Aksi Protes BEM, Ini Tuntutan Mereka!
Peringatan Dies Natalis Universitas Negeri Semarang (Unnes) diwarnai aksi protes dari anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Unnes.
Penulis: amanda rizqyana | Editor: mamdukh adi priyanto
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Peringatan Dies Natalis Universitas Negeri Semarang (Unnes) diwarnai aksi protes dari anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) Unnes terkait sejumlah kebijakan kampus.
Pada peringatan Dies Natalis ke-57, Universitas Negeri Semarang (Unnes) memberikan penghargaan Anugerah Konservasi kepada tokoh-tokoh bangsa yang berdedikasi tinggi melestarikan nilai-nilai luhur bangsa dan konservasi.
Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman menyampaikan, Anugerah Konservasi adalah ikhtiar strategis Unnes dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan nilai-nilai konservasi secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai kalangan.
Baca juga: 3 Mahasiswa Unnes Sumbang Medali Perak dan Perunggu untuk Indonesia di SEA Games Vietnam
Baca juga: Hingga Akhir Pendaftaran Ada 7 Bakal Calon Rektor Unnes, Ini Datanya!
Penghargaan diberikan kepada Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim dan musisi Ebiet G Ade.
"Penghargaan ini diberikan karena Unnes sepenuhnya menyadari bahwa upaya melestarikan lingkungan, seni dan budaya, serta nilai dan karakter bukanlah pekerjaan ringan," kata rektor kepada Tribunbanyumas.com di Kampus Unnes Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang, Rabu (8/6/2022).
Baca juga: Unnes Berikan Penghargaan kepada Menteri Nadiem Makarim dan Musisi Ebiet G Ade
Seusai pelaksanaan upacara Dies Natalis, sejumlah mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Unnes melakukan orasi pembuka di depan Gedung Rektorat Unnes.
Presiden BEM KM Unnes, Abdul Kholiq menyatakan bahwa Perayaan Dies Natalis merupakan penghinaan karena tidak melibatkan mahasiswa dalam kegiatan tersebut.
"Dies Natalis tidak melibatkan mahasiswa dan mahasiswa hanya menyimak secara daring melalui kanal tayang di media sosial," kata mahasiswa Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial (FIS) angkatan 2018 ini.
Baca juga: Akademisi Unnes Sebut Perilaku Perundungan atau Bullying Bermula dari Lemahnya Empati Anak
Ia pun mengkritisi momen Dies Natalis sebagai evaluasi masa kerja 2 periode atau 8 tahun Rektor Unnes, Prof Fathur.
Menurutnya, nama Unnes dalam beberapa tahun terakhir, bukan nama yang baik, melainkan nama yang buruk karena kasus dugaan plagiasi yang dilakukan rektor.
Selain itu, juga karena adanya tindakan represif atau perampasan kebebasan akademik yang dialami mahasiswa Unnes Julio Belnanda Harianja dan Frans Josua Napitu.
Baca juga: Dosen Konseling Unnes: Mengeluarkan Siswa Pelaku Perundungan dari Sekolah Bukan Solusi Tepat
Represifitas yang dialami ialah penyulitan penyelesaian studi dan skripsi, serta pembatasan aktivitas terhadap mahasiswa kritis yang direpresi secara tidak langsung.
"Ke depannya, ancaman represifitas akan semakin besar.
Terlebih di masa transisi dari Badan Layanan Umum (BLU) ke Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTN-BH)," tambah Abdul.
Ia juga menyoroti misorientasi pembangunan kampus yang tidak tepat sasaran dan tidak berorientasi pada mahasiswa.
Baca juga: Berikut Peraturan Peserta saat Ikui UTBK SBMPTN di Unnes, Ujian Dibagi dalam 2 Sesi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/orasi-pembuka-dari-bem-km-unnes-saat-perayaan-dies-natalis-unnes.jpg)