Breaking News:

Berita Budaya

Dibahas Dosen ISI Solo dan Yogyakarta, Gaya Mbeling Ki Enthus Dinilai Bangun Kebaruan Perdalangan

Gaya mendalang Ki Enthus yang slengekan dinilai membangun kebaruan dalam dunia dalang di Tanah Air.

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: rika irawati
tangkap layar webiner
Webinar Belajar dari Ki Enthus Susmono: Dhalang Edan Membangun Kebaruan, Minggu (7/11/2021). Webinar ini menghadirkan pembicara dari ISI Surakarta dan ISI Yogyakarta. 

"Mereka, secara fisik dan nonfisik, tidak ada jarak, peralatan pentas sederhana, mereka tidak mengenal adanya paugeran pedalangan. Yang penting semangat gropyok ramai," katanya.

Sugeng mengatakan, pembakuan etika dan estetika pedalangan sempat dibukukan di Padhasuka (1923) dari Kasunanan Surakarta, Habirandha (1925) dari Kasultanan Yogyakarta, dan PMDN (1931) yang merupakan sekolah dalang di Pura Mangkunegaran.

Namun, demikian, kata Sugeng, aksi Enthus tersebut berpengaruh pada sejumlah dalang di Tanah Air.

Sebut saja, Ki Narto 'Gemblung' dari Blora dan Ki Redi 'Mbelung' dari Blitar, yang kerap menari di panggung dalang.

Kemudian, Ki Seno Nugroho (Yogyakarta) yang kerap berinteraksi dengan para pesinden.

Hal senada juga diungkapkan dosen ISI Yogyakarta, Hariyanto.

Baca juga: Akun Twitter Satlantas Polresta Banyumas Diretas, Polda Jateng Turun Tangan Buru Pelaku

Baca juga: IDI Kudus Minta Warga Tak Takut Divaksin Astrazeneca, Syaifuddin: Semua Vaksin Bisa Timbulkan KIPI

Baca juga: Pemkab Tegal Tegur Kontraktor Proyek Jalan Kendayakan-Warureja, Pekerjaan Terlambat 29 Persen

Baca juga: Tak Terdampak Pandemi Covid, Bisnis Teri Nasi Cepiring Kendal Tembus Pasar Jepang

Enthus kerap mengklaim bahwa gaya yang dimainkan dalam pakeliran merupakan Gagrak Tegalan.

Ia ingin keluar dari pakem yang dibuat di Gagrak Solo dan Yogyakarta.

"Dalam penelitian saya, ia lebih memainkan wayang dengan gagrak campuran yang memiliki kekuatan verbal serta permainan visual menonjol yang berani menggunakan ragam permainan bahasa. Ada 'pisuhan', tabu, kasar namun berhasil memukai banyak orang," ucap Hariyanto.

Alumnus Kajian Budaya Sanata Dharma ini juga menyebut Enthus sebagai Don Juan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved