Berita Semarang
Manfaatkan Daun Sutra Soka, Pemuda di Semarang Ini Buat Bros Kupu-kupu Siap Tembus Pasar Eropa
Agus Nursodiq (33) nampak sibuk menyiapkan perlengkapan membuat bros kupu-kupu di Pesantren dan Rumah Kebudayaan Surau Kami, Banyumanik, Semarang.
Penulis: budi susanto | Editor: rika irawati
"Kalau yang dari kain, penjualannya lumayan, bisa 500 sampai 800 paket dalam sebulan meski di tengah pandemi. Dan kini, saya mengincar pasar Eropa lewat produk dari daun dengan harga satu paketnya Rp 250 ribu," paparnya.
Ia menjelaskan, selama ini masih mengandalkan pemasaran secara offline. Namun, dalam pemasaran produk terbarunya, ia sudah memiliki tim marketing secara online.
Sebelum mengakhiri perbincangan, Agus menerangkan pembuatan karyanya dari daun sutra soka secara rinci.
Berawal dari daun direndam selama tiga pekan untuk menghilangkan klorofil daun sehingga menjadi transparan.
Daun kemudian dijemur dan dirangkai menjadi bros kupu-kupu dengan bahan lain, seperti spon dan benang.
"Dia harus dibentuk menyerupai sayap kupu-kupu, dua daun jadi satu sayap utuh. Lalu, spon dibentuk dengan cara dipotong dan dipanaskan untuk menjadi tubuh kupu-kupu, kemudian dirangkai."
"Untuk antena, dari benang. Proses terakhir adalah pewarnaan menggunakan cat pigmen dan ditata ke wadah untuk dipasarkan," tambahnya. (*)