Berita Banyumas

Cerita Pelaku Wisata Purwokerto: Banting Setir Jadi Pedagang Es Degan demi Bertahan saat Pandemi

Sektor wisata merasakan dampak buruh pandemi Covid-19. Para pekerja di sektor ini pun harus gulung tikar dan banting setir jadi penjual.

Editor: rika irawati
KOMPAS.COM/HANDOUT
Pelaku usaha wisata di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Apit Maulana, banting setir sebagai penjual es kelapa muda dan obat-obat herbal untuk bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19. 

Ia mengaku, penghasilannya saat ini berkurang drastis.

"Jauh beda banget, dulu, dalam satu bulan, bisa mendapat sampai Rp 40 juta. Sekarang, satu bulan paling Rp 1 juta. Alhamdulillah, masih bisa makan," kata Apit.

Tak berbeda dari Apit, Heri Nursinto yang kini menjabat sebagai Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Kabupaten Banyumas itu juga mengalami nasib serupa.

"Banyak teman yang menyesalkan kenapa kita tidak punya kerjaan lain tapi siapa yang menyangka akan seperti ini. Kita (sebelumnya) yakin betul dengan pariwisata tidak akan mati," kata Heri.

Baca juga: Langkah Jonathan Cristie di Olimpiade Tokyo 2020 Terhenti, Kalah dari China dalam Dua Gim

Baca juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Pagi Ini, Jumat 30 Juli 2021: Rp 978.000 Per Gram

Baca juga: Cuaca Purbalingga Hari Ini, Jumat 30 Juli 2021: Siang hingga Malam Diperkirakan Hujan

Baca juga: Cuaca Purwokerto Hari Ini, Jumat 30 Juli 2021: Diperkirakan Hujan sepanjang Siang hingga Malam

Ia telah terjun di dunia pariwisata sebagai tour guide sejak 1995. Dan itu menjadi satu-satunya mata pencaharian untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya.

Heri mengaku hanya bisa bertahan empat bulan pertama sejak pandemi. Bulan selanjutnya, ia terpaksa menjual mobil yang masih diangsur.

Hasil penjualan mobil digunakan untuk menutup angsuran. Sisanya, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

"Awal-awal masih bisa bertahan, ada tabungan. Tapi, saya mulai berpikir realistis. Saya mulai jualan online lewat WhatasApp, jualan apa saja, aksesoris dan lain-lain," kata Heri.

Selain itu, ia juga mencoba membuat warung sembako kecil di depan rumah.

Namun, usahanya juga penuh tantangan. Pada saat yang hampir bersamaan, tetangganya juga membuka warung serupa.

"Sekarang banyak yang jualan juga karena sama-sama terdampak," ujar Heri.

Pria lulusan Fakultas Hukum ini mengaku pendapatannya saat ini hanya cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Saya ini cuma tour guide, dulu sebulan bisa Rp 6-7 juta. Sekarang, mungkin hanya 10 persennya, untuk makan saja tidak cukup," kata Heri.

Penghasilannya saat ini juga membuatnya tak mampu lagi membayar premi beberapa asuransi jiwa dan kesehatan.

"Saya dulu punya beberapa asuransi, sudah saya matikan semuanya. Sekarang kasih istri Rp 500.000 saja berat, dulu sebulan saya bisa kasih Rp 2 juta," ungkap Heri.

Baca juga: Tim Ronggolawe Semarang Sudah Bisa Tidur Lebih Nyenyak, Sehari Cuma Tangani Dua Jenazah

Baca juga: Niat Marcela Interview Pekerjaan, Motor Malah Dibawa Kabur, Begini Modus Awalnya di Karanganyar

Baca juga: Mendagri Tegur Bupati Kendal, Serapan Insentif Nakes Masih Sangat Rendah, Cuma 28 Persen

Baca juga: Seniman Rindu Manggung meski Secara Virtual, Begini Syarat yang Diajukan Bupati di Tengah Pandemi

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved