Breaking News:

Berita Kendal

Begini Cara Pengrajin Tahu di Desa Blorok Kendal Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Kedelai dan Wabah

Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan menjadi tantangan bagi para pengusaha tahu. Termasuk, di Desa Blorok, Kecamatan Brangsong, Kendal.

Penulis: Saiful Ma'sum | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/SAIFUL MA'SUM
Perajin tahu di Desa Blorok, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, sedang memotong tahu menjadi beberapa ukuran, Jumat (30/7/2021). 

"Sejak pandemi Covid-19 berlangsung, harga kedelai naik tajam. Ini yang menjadi masalah perajin tahu. Mau gak mau, stok kedelai harus kami kurangi agar usaha ini tetap bisa bergerak," ujarnya.

Selain mengurangi stok kedelai, Muzawir juga mengurangi jumlah produksi 10-15 persen, dari 40-50 drum per hari menjadi 35-45 drum per hari.

Kapasitas kedelai setiap drum juga dipangkas 2 kilogram, dari sebelumnya 14 kilogram menjadi 12 kilogram kedelai per drum.

Untuk menjaga kepercayaan konsumennya, Muzawir memberitahukan kondisi pengolahan tahu kepada para pengepul dan pedagang.

Ia juga menceritakan kondisi saat ini kepada semua karyawan agar mereka memahami.

"Kami coba manajemen demikian sebagai solusi agar tidak ada pengurangan karyawan. Namun, dampak PPKM, harga kedelai terus naik. Kami siasati apa yang bisa kami lakukan," tutur Muzawir yang sudah menjadi perajin tahu belasan tahun.

Baca juga: Warga Jatilawang Banyumas Senang, Pembangunan Jembatan Gantung Kalitajum Mulai Dikerjakan

Baca juga: Modus Memacari Korban, Pengemudi Taksi Online di Kota Tegal Kuras Tabungan Janda Muda

Baca juga: Cerita Pelaku Wisata Purwokerto: Banting Setir Jadi Pedagang Es Degan demi Bertahan saat Pandemi

Baca juga: Langkah Jonathan Cristie di Olimpiade Tokyo 2020 Terhenti, Kalah dari China dalam Dua Gim

Selain mengurangi jumlah produksi, Muzawir juga menaikkan harga jual untuk menutup tingginya harga beli kedelai.

Satu drum tahu dijual ke pedagang atau pengepul seharga Rp 180.000, naik Rp 25.000 dari harga sebelumnya, Rp 155.000.

Warga Kendal itu pun berharap, pemerintah lebih serius menangani pandemi Covid-19 dan bekerjasama sebaik mungkin dengan masyarakat agar pandemi segera berakhir.

"Kami harap, aturan PPKM segera berakhir. Kehidupan normal kembali dengan adanya ikhtiar pemerintah dan masyarakat. Ya, ini yang bisa kami lakukan, harga baku kedelai mahal. Kalau tidak ada pengurangan pasti akan minus banyak," ujarnya.

Muzawir pun mengaku bersyukur, usaha pembuatan tahu miliknya masih berjalan di tengah pandemi Covid-19 meski dengan keterbatasan yang ada. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved