Berita Kendal
Begini Cara Pengrajin Tahu di Desa Blorok Kendal Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Kedelai dan Wabah
Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan menjadi tantangan bagi para pengusaha tahu. Termasuk, di Desa Blorok, Kecamatan Brangsong, Kendal.
Penulis: Saiful Masum | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, KENDAL - Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan menjadi tantangan bagi para pengusaha tahu. Seperti yang dialami Muzawir (40), perajin tahu di Desa Blorok, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal.
Usaha pengolahan bahan makanan dari kedelai milik Muzawir masih bertahan setelah dihantam pandemi Covid-19, 1,5 tahun terakhir.
Meskipun harga bahan pokok kedelai melonjak tajam di angka Rp 11.000 dari harga normal, Rp 7.000-8.000 per kilogram.
Saat ditemui di rumah produksinya, Muzawir mengungkapkan, pilihannya agar tetap bertahan memproduksi tahu saat pandemi berlangsung untuk keberlangsungan keluarga dan 18 karyawan.
Baca juga: 85.565 Keluarga di Kendal Terima Bantuan Beras, Bupati Minta Dinsos Kawal Distribusi hingga Desa
Baca juga: Mendagri Tegur Bupati Kendal, Serapan Insentif Nakes Masih Sangat Rendah, Cuma 28 Persen
Baca juga: Tetap Berproduksi, Pengrajin Tahu Purwokerto Pilih Naikkan Harga setelah Harga Kedelai Impor Meroket
Baca juga: Harga Kedelai Melonjak, Ukuran Tahu-Tempe di Pasar Induk Kajen Pekalongan Jadi Lebih Kecil
Dengan itu, Muzawir menyiasati berbagai trik agar usaha pembuatan tahunya bisa tetap eksis. Sehingga, nasib keluarga dan karyawan tetap di level aman.
"Bagaimana pun saya bertanggungjawab atas keluarga dan karyawan saya. Kalau produksi mandek (berhenti), bagaimana dengan penghasilan karyawan saya? Sekecil apapun harus tetap bisa jalan," terangnya, Jumat (30/7/2021).
Muzawir menjelaskan, kondisi usahanya, saat ini, mengalami penurunan 30-35 persen dari jumlah produksi sebelum pandemi.
Artinya, Muzawir hanya bisa mengolah bahan baku kedelai 4-5 kuintal per hari, dari sebelumnya 6-7 kuintal kedelai per hari.
Hal itu disebabkan adanya penurunan permintaan dan lonjakan harga kedelai dari Rp 7.000-Rp 8.000 per kilogram menjadi Rp 11.000 per kilogram.
Ia pun mencoba menyiasati dengan mengurangi jumlah produksi dan kebutuhan kedelai setiap drum pengolahan tahu agar tetap untung.
"Sejak pandemi Covid-19 berlangsung, harga kedelai naik tajam. Ini yang menjadi masalah perajin tahu. Mau gak mau, stok kedelai harus kami kurangi agar usaha ini tetap bisa bergerak," ujarnya.
Selain mengurangi stok kedelai, Muzawir juga mengurangi jumlah produksi 10-15 persen, dari 40-50 drum per hari menjadi 35-45 drum per hari.
Kapasitas kedelai setiap drum juga dipangkas 2 kilogram, dari sebelumnya 14 kilogram menjadi 12 kilogram kedelai per drum.
Untuk menjaga kepercayaan konsumennya, Muzawir memberitahukan kondisi pengolahan tahu kepada para pengepul dan pedagang.
Ia juga menceritakan kondisi saat ini kepada semua karyawan agar mereka memahami.