Kuliner Tegal
Mengintip Proses Pembuatan Carabikang Mbak Am, Jajanan Pasar Khas di Sentra Jales Slawi Wetan Tegal
Meski di daerah lain Anda bisa menemukan jajanan sejenis namun untuk Carabikang dari Kabupaten Tegal memiliki cita rasa tersendiri.
Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, SLAWI - Carabikang, jajanan tradisional yang biasa kita jumpai di pasar tradisional, menjadi salah satu jajanan yang wajib dicoba, khususnya jika Anda sedang berkunjung ke Kabupaten Tegal.
Meski di daerah lain Anda bisa menemukan jajanan sejenis namun untuk Carabikang dari Kabupaten Tegal memiliki cita rasa tersendiri.
Satu di antaranya, Carabikang buatan Siti Aminah (46) atau yang lebih dikenal dengan nama Carabikang Mbak Am.
Aminah mengaku mulai membuat Carabikang dan memasarkannya sejak tahun 1995 atau sudah 26 tahun dia menjalani usaha membuat jajanan tradisional ini.
Berbekal resep dari orangtua, Aminah mulai mengembangkan lewat inovasi sehingga usaha yang dirintis bersama sang suami bisa bertahan hingga sekarang.
"Kunci keberhasilan membuat Carabikang itu ada di bahan-bahannya. Misalnya, pemilihan gula pasir, santan, dan kombinasinya juga harus pas karena kalau tidak sesuai maka cita rasa pasti berbeda," jelas Aminah saat ditemui di rumah produksi Carabikang Mbak Am, Senin (26/7/2021).
"Carabikang rasanya ya lebih ke gurih dan manis. Kalau yang saya buat, ada yang warna cokelat, merah muda, dan hijau, tapi kalau varian rasa, ya tidak ada, hanya dipermainan warna saja," imbuhnya.
Baca juga: Berkunjung ke Tegal? Jangan Lupa Beli Oleh-oleh Kacang Bogares untuk Dibawa Pulang
Baca juga: Di Kota Tegal Jangan Lupa Beli Ikan Asap, Cocok Dimasak Mangut dan Pecak
Baca juga: Miris Dengar Cerita Pemilik Usaha Peti Jenazah di Tegal, Amir Oval: Sehari Bikin 50 Langsung Habis
Baca juga: Polres Tegal Bekuk Komplotan Pencuri Mobil Pikap: Beraksi Dini Hari, Sasar Mobil di Halaman
Biasanya, Carabikang buatan Aminah banyak dipesan penjual jajanan tradisional, baik yang di pasar atau pun membuka lapak sendiri.
Terkadang, ia juga menerima pesanan untuk acara hajatan, pengajian, sarahan atau seserahan.
Tak heran, setiap harinya, Aminah dibantu suami, satu keponakan, dan sang anak, memulai proses produksi membuat Carabikang dari tengah malam sampai dini hari. Bahkan, jika sedang banyak pesanan, bisa sampai pagi hari.
Katakan, dari pukul 23.00 WIB sampai keesokan harinya pukul 08.00 WIB pagi.
Aminah memilih memasak Carabikang mulai malam hari karena mayoritas pembeli di tempatnya adalah pedagang di pasar.
Dia ingin, Carabikang buatannya bisa sampai ke tangah konsumen dalam kondisi masih hangat atau segar, dan tahan lama (tidak mudah basi).
Selain itu, jika proses pembuatan Carabikang terlalu cepat atau terburu-buru, akan mengurangi tekstur Carabikang menjadi kaku.
Aminah menjelaskan, proses pembuatan Carabikang dimulai dari mencampur bahan-bahan utama berupa tepung terigu, tepung beras, gula pasir, garam, santan kental, pewarna makanan, sampai membentuk adonan yang siap untuk dipanggang.
Setelah adonan siap, kemudian dicetak satu per satu di tempat untuk memanggang yang telah dipanaskan di api sedang, sampai matang.
Dari proses awal membuat adonan sampai Carabikang dikemas dan siap dipasarkan, menurut Aminah, membutuhkan waktu paling tidak 1 jam.
"Per hari, untuk saat ini, saya bisa membuat kurang lebih 2.000 Carabikang, paling sedikit atau misal sedang sepi, ya sekitar 1.700 buah," katanya.
"Harganya, per buah Rp 800. Semisal ada yang mau pesan dari segi rasa lebih enak, harga beda, yaitu Rp 1.000-Rp 1.200 per buah," ujarnya.
Baca juga: Tak Punya Uang untuk Bersenang-senang, Ibu Rumah Tangga di Purbalingga Nekat Gadaikan Motor Kenalan
Baca juga: Warga Lerep Semarang Berduka, Kehilangan Bripka Broto: Beliau Sering Membayari Listrik Tempat Ibadah
Baca juga: Jadi Runner Up Grup C, Praveen/Melati Melaju ke Perempat Final Bulu Tangkis di Olimpiade Tokyo
Baca juga: Pemerintah Beri Bantuan Rp 1,2 Juta kepada UMKM Penerima Baru, Ini Syarat dan Cara Mendapatkannya
Lokasi Aminah tinggal di RT 15 RW 06, Kelurahan Slawi Wetan, Kabupaten Tegal, memang dikenal sebagai sentra pembuat jajanan tradisional atau lebih dikenal dengan nama sentra Jales (jajanan teles).
Sehingga, tidak hanya Aminah yang sibuk saat malam hingga pagi hari tetapi tetangga di sekitar rumahnya juga.
Mereka membuat jajanan tradisional beragam rupa. Selain Carabikang, ada juga yang memproduksi onde-onde, cucur, wajik, klepon, kue dadar gulung, molen.
Sejauh ini, pemasaran baru di wilayah Kabupaten Tegal dan sekitarnya.
Ditanya apakah usahanya terdampak PPKM Darurat, Aminah mengatakan tak terdampak.
"Ya, saya, misal ada yang mau pesan, terpenting kasih info dulu, untuk jumlahnya tidak saya batasi apakah minimal 100 buah atau berapa. Misal ada yang pesan 25 Carabikang dan stok adonan masih ada, ya saya tetap buatkan," ujarnya. (*)