Sabtu, 23 Mei 2026

Opini

Memulai Sebuah Purwokerto

Lalu Banyumas? Masih teriak-teriak bawa nama Baturraden, itupun kadang dikira milik sebelah.

Tayang:
TRIBUNBANYUMAS/Permata Putra Sejati
MENARA TERATAI - Suasana pesta kembang api di Menara Pandang Teratai Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Sabtu (31/12/2022) malam. 

*Penulis merupakan Koordiantor Pemasaran BLUD Pariwisata Kabupaten Banyumas

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Semua daerah sibuk jualan wisata. Banjarnegara punya Dieng yang katanya Negeri Para Dewa, Purbalingga punya Goa Lawa dan jalur Slamet yang menggoda, Cilacap punya Nusakambangan yang misterius dan bikin penasaran, Kebumen tinggal selonjor ke Pantai Menganti yang memikat, Brebes selatan bawa teh dan dingin yang bikin susah move on.

Lalu Banyumas? Masih teriak-teriak bawa nama Baturraden, itupun kadang dikira milik sebelah. Padahal kalau dipikir-pikir, Banyumas, Purwokerto tepatnya, punya sesuatu yang jauh lebih langka. Ia mungkin bukan destinasi, tapi bisa jadi titik mula segala destinasi.

Baca juga: Dirancang Megah, Ini Filosofi Proyek Masjid Seribu Bulan Purwokerto Senilai Rp125 Miliar yang Mandeg

Orang sering lupa, wisata itu nggak melulu soal “Ada apa di sana?”, tapi juga “Bisa ke mana dari sana?”. Dan Purwokerto menjawab yang kedua dengan tenang tapi yakin: ke mana aja bisa, dari sini.

Mau ke Dieng? lewat sini. Mau ke Nusakambangan? ya mampir dulu sini. Mau naik Slamet? nginap dulu di kota ini. Mau healing-curhat-ngopi-nonton pementasan sambil cari sinyal bagus dan toilet bersih? ya di sini tempatnya.

Kalau semua tempat itu bintang, maka Purwokerto adalah langitnya, diam-diam memayungi.

Jadi kalau Bali punya Denpasar yang jadi pangkalan semua petualangan, kenapa Purwokerto nggak bisa jadi pusat Banyumas Raya? Toh, sama seperti Malang yang jadi gerbang Bromo meski kawahnya di kabupaten sebelah, atau Sleman yang jadi tempat nginap para pemburu sunset Parangtritis, padahal pantainya masuk Bantul.

Baca juga: 836 Barang Penumpang Ditemukan di Kereta Api dan Stasiun Daop 5 Purwokerto, Begini Nasibnya

Tak semua harus punya gunung atau laut; kadang, jadi hub yang rapi dan nyaman justru jadi kekuatan paling stabil. Kota yang baik bukan yang punya segalanya, tapi yang bisa menyambungkan semuanya.

Kita terlalu sibuk cari atau bikin destinasi baru, padahal bisa saja nilai kita justru di menjadi pusat pertemuan. Kota pelajar, kota kereta, kota mendoan, kota yang bisa jadi hotel besar untuk semuanya.

Tak perlu bikin air terjun buatan atau menara raksasa. Cukup benahi informasi, sediakan peta, ajak teman-teman tetangga bikin paket lintas batas, dan buat orang betah mulai dari sini. Kita siapkan city tour yang lucu, mural-mural penuh cerita, kuliner malam yang nggak nguras dompet tapi menguras kenangan.

Purwokerto bukan cuma kota transit, tapi kota niat baik. Kota titik mula. Kota yang tahu diri, tapi juga tahu potensi. Jadi biarlah tempat lain punya wahana dan panorama, Purwokerto cukup jadi permulaan segala rencana. Karena tak semua harus jadi panggung utama, kadang, jadi pintu masuk yang menyenangkan jauh lebih membekas dalam ingatan.

Jangan malu jadi tempat singgah. Karena di dunia yang serba cepat ini, justru kota yang bisa bikin orang berhenti sejenak adalah kota yang paling mengesankan. Purwokerto nggak perlu air terjun tertinggi atau pantai terdalam. Cukup jadi kota titik mula, dan itu sudah lebih dari cukup. Karena setiap perjalanan butuh awal, dan Purwokerto bisa jadi awal yang paling manis. (*)

Baca juga: Auto Pingin Coba! Segar manis, Melon Premium dari Kebun Lokal di Baturraden Banyumas

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved