Opini
Ontologi Negara Kuat Itu Kedaulatan Domestik
berbagai krisis dunia menunjukkan bahwa kekuatan sesungguhnya terletak pada kemampuan negara memenuhi kebutuhan strategisnya dari dalam negeri
Ringkasan Berita:
- Selama beberapa dekade, keberhasilan ekonomi sering diukur melalui pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), arus investasi asing, dan aktivitas pasar keuangan.
- Namun berbagai krisis dunia menunjukkan bahwa kekuatan sesungguhnya terletak pada kemampuan negara memenuhi kebutuhan strategisnya dari dalam negeri. Asing dan kawan-kawannya “hanya ilusi.”
- Dus, kedaulatan domestik menjadi fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan dan kedahsyatan ekonomi-politik pada sejarah berikutnya.
PENULIS: Yudhie Haryono (Presidium Forum Negarawan) dan Agus Rizal (Peneliti Senior Nusantara Centre)
TRIBUNBANYUMAS.COM - Salah kaprah! Selama beberapa dekade, keberhasilan ekonomi sering diukur melalui pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), arus investasi asing, dan aktivitas pasar keuangan. Fakta yang menyertainya selalu berulang: “terjebak dalam jebakan finansial.” Raung fiskal yang menyempit dan beban hutang yang menggunung.
Namun berbagai krisis dunia menunjukkan bahwa kekuatan sesungguhnya terletak pada kemampuan negara memenuhi kebutuhan strategisnya dari dalam negeri. Asing dan kawan-kawannya “hanya ilusi.” Dus, kedaulatan domestik menjadi fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan dan kedahsyatan ekonomi-politik pada sejarah berikutnya.
Hal ini telah lama dijelaskan oleh Friedrich List (1846) yang menyatakan bahwa kemakmuran suatu negara tidak diukur dari seberapa banyak kekayaan atau komoditas yang bisa ia beli hari ini (nilai tukar), melainkan dari seberapa besar kemampuan negara tersebut untuk memproduksi barang secara mandiri (productive powers).
Menurut List, pertanian, industri, teknologi, infrastruktur, dan kapasitas produksi nasional merupakan sumber utama kekuatan negara. Negara yang terlalu bergantung pada pihak luar akan lebih rentan terhadap tekanan ekonomi maupun politik serta krisis global. Karenanya, tesis List jadi satu resep yang telah 50 tahun lebih dianaktirikan.
Terdapat tiga pilar dalam menuangkan pemikiran Friedrich List dalam ekonomi saat ini. Pertama, adalah ketahanan pangan. Dalam Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menempatkan ketersediaan pangan sebagai syarat utama stabilitas nasional.
Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduknya akan memiliki daya tahan lebih tinggi ketika terjadi gangguan perdagangan internasional, krisis geopolitik, maupun lonjakan harga komoditas dunia. Dus, “pangan itu sakral” dalam beberapa pidato Presiden menjadi “nyata.”
Indonesia memiliki modal yang kuat pada sektor ini. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi beras nasional tahun 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton, meningkat lebih dari 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya atau surplus 51 % . Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian tetap menjadi fondasi penting bagi stabilitas ekonomi nasional.
Baca juga: Dampak Harga Pertamax di Purwokerto Naik: Mobilitas dan Daya Beli Mahasiswa Turun, Ekonomi Terdampak
Produksi pangan yang kuat yang produksi sendiri tidak hanya menjaga pasokan, tetapi juga melindungi daya beli masyarakat dari gejolak harga global. Sehingga gejolak kurs tidak akan mempengaruhi harga pangan nasional. Gejolak ini hanya permainan mafia impor pangan yang sudah lama “mengkhianati republik.”
Namun produktivitas pertanian sangat bergantung pada ketersediaan sarana produksi terutama pupuk. Inilah pilar keduanya dalam negara yang kuat. Industri pupuk harus dipandang sebagai sektor strategis nasional, bukan sekadar industri komersial biasa, bukan pula milik para mafia. Negara yang bergantung pada impor pupuk akan menghadapi risiko besar ketika terjadi gangguan pasokan internasional atau pelemahan nilai tukar. Ini penting berkali-kali kita terkendala mahalnya pupuk akibat import pupuk.
Indonesia memiliki keunggulan
Indonesia memiliki keunggulan karena kapasitas produksi pupuk nasional mencapai sekitar 14,65 juta ton per tahun atau surplus 24 % . Kapasitas tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen pupuk terbesar di kawasan. Kemampuan memproduksi pupuk secara mandiri memberikan perlindungan bagi sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang. Lahan, bibit, pupuk, pengairan, tata kelola penen dan pasca panen serta pasar sosial menjadi komunitas epistemik yang harus terus dijaga.
Pilar ketiga adalah ketahanan energi. Hampir seluruh aktivitas ekonomi bergantung pada energi. Industri manufaktur, transportasi, logistik, pertanian modern, dan sektor jasa memerlukan pasokan energi yang stabil dan terjangkau. Tanpa energi yang cukup, proses produksi akan terganggu dan daya saing nasional akan menurun.
Indonesia memiliki sumber daya energi yang besar, mulai dari minyak bumi, gas alam, batu bara, panas bumi, hingga energi terbarukan. Produksi energi nasional yang kuat memberikan modal penting bagi pembangunan ekonomi.
Saat ini Indonesia sukses menerapkan program pencampuran minyak sawit ke dalam bahan bakar diesel, yang saat ini telah mencapai tingkat B35 (35?mpuran bahan bakar nabati) dan terus diuji coba untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi (B40/B50). Namun tantangan utama bukan hanya menghasilkan energi, melainkan memastikan energi tersebut dapat mendukung kebutuhan industri dan masyarakat secara berkelanjutan.
| Stadion Tri Lomba Juang Semarang Bakal Ditutup 2 Bulan, Warga Diimbau Beralih ke Stadion Sidodadi |
|
|---|
| Jaksa Siapkan Bukti Baru di Sidang Berikutnya, Kubu Gus Yazid Soroti Asal-usul Tanah Carui |
|
|---|
| Sidang Gus Yazid:Saksi Sebut Tanah Carui Dikuasai Oknum Militer, Pemkab Cilacap Terkesan Diam |
|
|---|
| Bukan Sekadar Atur Lalu Lintas, Polantas Pekalongan Dilatih Olah TKP Laka |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/penulis-yudhie-rizal-opini.jpg)