Penanganan Corona

FOKUS - Klaster Aneh Tepian Kendal

Suasana bertambah tak nyaman tatkala ada seorang petugas datang, memanfaatkan pengeras suara di musala untuk memanggil warga.

Editor: deni setiawan
ISTIMEWA
Kordinasi Pemdes Ngareanak Singorojo dengan warga RT 03 RW 05 terkait aturan isolasi mandiri dan pemberian sembako untuk bekal makanan selama menjalani isolasi mandiri, Minggu (23/5/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, KENDAL - KAMIS (20/5/2021) mungkin menjadi hari yang tak dilupakan bagi sebagian warga Dusun Ngareanak, Desa Ngareanak, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal.

Ini bukan kaitannya peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), dimana masyarakat diminta hening sejenak pada pukul 10.00, mengumandangkan lagu Indonesia Raya.

Warga di lingkungan RT 02 dan RT 03 RW 05 justru dikejutkan kehadiran sepucuk surat undangan mengikuti tes swab di Puskesmas setempat.

Baca juga: 18 Warganya Positif Covid, Satu RT di Ngareanak Kendal Dilockdown. Kebutuhan Makanan Disuplai Desa

Baca juga: 2 Lapas di Kendal Jadi Klaster Baru Penularan Covid, 40 Pegawai dan Warga Binaan Diisolasi

Baca juga: Dugaan Video Syur Bu Kadus di Rowosari, Polres Kendal: Yang Kami Soroti Adalah Penyebarannya

Baca juga: 39 Ruang Isolasi Kembali Disiagakan di RSDC Kendal, Antisipasi Lonjakan Kasus Pasca Lebaran

Surat disebut sesuai instruksi Dinkes Kabupaten Kendal.

Kian terkejut ketika mereka membaca surat itu.

Sebut saja Wahiki, warga setempat.

Surat yang tertuju menyebutkan bila dirinya diduga terpapar Covid-19.

Disebut gejala awal adalah sakit demam.

Gejala mayoritas warga, selain batuk dan pilek seperti yang tercantum dalam daftar tracking sampel di dua RT tersebut.

Sekira 58 warga, tertulis bila mereka mulai mengalami gejala pada 17 Mei 2021.

Meski, ada sebagian di antara mereka sebenarnya tak bergejala atau sakit apapun.

Suatu hal yang aneh baginya.

Sebab selama ini, tidak ada satupun pihak yang bertanya langsung padanya, entah itu terkait kondisi kesehatan maupun lainnya.

Tanda tanya besar baginya dan warga lain hingga saat ini.

Data dari manakah atau siapakah yang menyodorkannya?

Padahal, bila mengacu pada gejala yang dialami, dia merasakan badan sakit pada pertengahan Ramadan.

Tanpa diperintah, dirinya telah berinisiatif bersama keluarga untuk isolasi mandiri.

Bahkan saat Lebaran, dia meminta kepada para saudara maupun tetangga untuk sementara tidak bertamu.

Bagian dari antisipasi, meskipun kondisinya sebenarnya sudah sangat pulih.  

Tak cukup di situ, suasana bertambah tak nyaman tatkala ada seorang petugas datang, memanfaatkan pengeras suara di musala untuk memanggil warga.

Yang juga terdengar hingga di dusun sekitar.

Imbasnya, warga yang sedang berada di kebun, beranjak bergegas pulang.

Seorang lansia juga dikabarkan tiba-tiba ambruk karena ketakutan dan kini terbaring di kasur.

Ada pula warga yang mendadak tensi darah melonjak naik akibat terkaget plus panik.

Kordinasi Pemdes Ngareanak dengan warga RT 03 RW 05 terkait aturan isolasi mandiri dan pemberian sembako untuk bekal makanan selama menjalani isolasi mandiri, Minggu (23/5/2021).
Kordinasi Pemdes Ngareanak dengan warga RT 03 RW 05 terkait aturan isolasi mandiri dan pemberian sembako untuk bekal makanan selama menjalani isolasi mandiri, Minggu (23/5/2021). (ISTIMEWA)

Baca juga: Selamat, Dawet Ayu Banjarnegara Jadi Minuman Tradisional Terpopuler, Ajang API Awards 2020

Baca juga: Pelaku Gunakan Modus Tanya Alamat, Jambret Kalung Warga Mipiran Purbalingga

Pertanyaannya, apakah etis cara yang dilakukan petugas itu?

Apakah ada dalam SOP penanganan Covid-19, dalam misal kaitannya ‘memaksa’ warga untuk tes swab?

Efek sosialnya, mereka kini terasa sedang dijauhi oleh warga lain.

Bahkan seorang pedagang klepon yang tinggal di sekitarnya pun terimbas.

Dagangan yang biasanya bisa dititipkan di warung-warung, ditolak untuk sementara waktu.

Di sini, sekiranya jadi bahan evaluasi bersama atas kondisi aneh tapi nyata seperti yang disebutkan di atas.

Jangan sampai, yang sehat jadi sakit.

Yang sakit, bertambah sakit.

Meskipun demikian, sebagai warga, dia bersama warga lain patuh mengikuti instruksi.

Hingga akhirnya, muncul hasil swab positif Covid-19.

“Informasi awal, ada seorang warga yang sakit flu ikut berjamaah di musala."

"Ada juga yang sakit, opname di RS Tugurejo Semarang."

"Sehingga dilakukan tes swab seusai Lebaran,” kata Kadus Ngareanak, Didi Yulianto.  

Mengacu data Kecamatan Singorojo, Desa Ngareanak saat ini berkategori zona merah.

Dari 58 warga, yang menjalani swab 44 orang.

Hasilnya 19 dinyatakan positif.

Di Kecamatan Singorojo saat ini terdapat 23 positif Covid-19.

22 warga Desa Ngareanak dan 1 warga Desa Getas.

Mereka pun telah diminta kembali menjalani isolasi mandiri selama 10 hari, diperpanjang 4 hari bila belum sehat. 

Mengacu data Dinkes, terdapat 137 orang per 22 Mei 2021 di Kendal.

54 dirawat di rumah sakit dan 83 lainnya isolasi mandiri. (*)

Artikel tersebut telah tayang di harian Tribun Jateng halaman 2, Senin 24 Mei 2021

Disclaimer Tribun Banyumas

Bersama kita lawan virus corona.

Tribunbanyumas.com mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan.

Ingat pesan ibu, 5M (Memakai masker, rajin Mencuci tangan, selalu Menjaga jarak, Menghindari kerumunan, mengurangi Mobilitas).

Baca juga: Cerita Pedagang Pantura Tegal, Kehilangan Untung Hingga 90 Persen Selama Libur Lebaran

Baca juga: Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun, Pengasuh Ponpes Al Hikmah 1 Brebes KH Shodiq Suhaimi Tutup Usia

Baca juga: Warga Dusun Paponan Temanggung Belum Percaya, Orangtua Aisyah Tega Bunuh Anaknya, Ini Kata Mereka

Baca juga: 5 Pemuda di Wonosobo Ditangkap Polisi, Jual dan Simpan Bahan Pembuat Petasan

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved