Breaking News:

Berita Kebumen

Warga Ngabean Kebumen Trauma, Tradisi Nyalakan Petasan saat Idulfitri Bakal Hilang. Ini Sebabnya

Warga Desa Ngabean, Kecamatan Mirit, Kebumen, trauma pascakejadian ledakan petasan yang menewaskan empat warganya.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/Istimewa
Dir Binmas Polda Jateng Kombes Pol Lafri bersama Kapolres Kebumen AKBP Piter Yanottama menunggui proses olah tempat kejadian perkara (TKP) lanjutan di lokasi ledakan petasan di Desa Ngabean, Kecamatan Mirit, Kebumen, bertambah, Kamis (13/5/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, KEBUMEN - Insiden ledakan petasan yang menewaskan empat warga Desa Ngabean, Kecamatan Mirit, Kebumen, tak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga.

Masyarakat yang tinggal di sekitar tempat kejadian juga merasa trauma.

Bagaimana tidak, ledakan itu terasa kuat. Dampaknya pun dahsyat. Warga melihat mayat bergelimpangan dengan kondisi tubuh hangus dan tidak utuh lagi.

Sementara, empat korban luka lainnya sudah tak berdaya karena luka bakar hampir memenuhi sekujur tubuhnya.

Baca juga: Ledakan Petasan Maut di Kebumen, Kapolda Jateng: Korban Diduga Meracik Mercon sambil Merokok

Baca juga: Terungkap, Obat Mercon yang Meledak dan Tewaskan 4 Warga Kebumen Dibeli dari Pati

Baca juga: Korban Tewas Ledakan Petasan di Kebumen Bertambah, Total 4 Tewas dan 4 Masih Dirawat di RS

Baca juga: Usai Salat Id dan Halalbihalal, Bupati Kebumen Cek Ibadah Kenaikan Isa Almasih di Gereja

Darah berceceran di lokasi kejadian. Puing rumah yang hancur karena letusan, berserakan.

Usai suara ledakan yang memekakkan telinga, tinggallah jeritan dan tangis meronta orang-orang yang melihat anggota keluarganya tergeletak tak berdaya.

Slamet Hadi Sutanto, perangkat Desa Ngabean, tak sedang di lokasi ketika insiden itu terjadi.

Tapi, dari kejauhan, ia mendengar suara ledakan yang disebutnya mirip bom.

Bahkan, dentuman ledakan itu terdengar hingga desa tetangga, sejauh empat kilometer dari lokasi kejadian.

"Ledakannya sangat keras, terdengar hingga desa tetangga, " katanya, Jumat (14/5/2021).

Slamet mengatakan, petasan itu sekiranya akan diledakkan seusai salat Idulfitri, sebagaimana kebiasaan warga selama ini.

Ia mengakui, kebiasaan sebagian pemuda menyalakan petasan saat Idulfitri, sulit dihilangkan. Meskipun, larangan untuk membuat dan membunyikan petasan sudah ada.

Baca juga: Bupati Purbalingga Siapkan 5 Bingkisan Lebaran bagi Netizen, Ini Cara dan Syarat Mendapatkannya

Baca juga: Tayang Dear Imamku. Berikut Jadwal Film NSC Ultima Braling Purbalingga Hari Ini, Sabtu 15 Mei 2021

Baca juga: Tayang Tarian Lengger Maut. Berikut Jadwal Film di Bioskop Purwokerto Hari Ini, Sabtu 15 Mei 2021

Baca juga: Prakiraan Cuaca Purbalingga Hari Ini, 15 Mei 2021: Hujan dari Siang hingga Dini Hari Besok

Kejadian tragis ini pun baru pertama kali terjadi di desa tersebut. Peristiwa ini diakuinya menimbulkan trauma bagi warga sekitar.

Ia berharap, tragedi memilukan ini menjadi pelajaran bagi masyarakat, khususnya warga Ngabean agar tidak kejadian serupa tidak terulang.

"Warga trauma. Gak usah main gitu (petasan) lagi," katanya. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved