Berita Semarang
Jejak Batik Patroon Ambarawa Terungkap dari Arsip di Belanda, Ada 18 Pola yang Dikembangkan
Kabar terkait arsip mengenai batik Ambarawa yang tersimpan di Belanda, membuat Derry Gunadi bersemangat.
"Dengan motif yang spesifik berupa gambar wayang," jelasnya.
Baca juga: Muncul Klaster Covid-19 di Ponpes, Kemenag Kota Tegal: Berawal dari Seorang Santri Pulang ke Rumah
Baca juga: Melamun, Pemotor Tabrak Palang Kereta di Pakis Klaten Hingga Patah. Videonya Viral di Instagram
Baca juga: Bupati Kudus Minta Warga Dukung Normalisasi Sungai Gelis: Bisa Cegah Banjir dan Jadi Wisata Rafting
Baca juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Pagi Ini, Rabu 28 April 2021 Rp 971.000 Per Gram
Ambarawa, pada era perjuangan, lanjutnya, termasuk daerah penting. Akhirnya, Ambarawa tumbuh menjadi daerah industri.
"Muncul juga industri batik yang merupakan kombinasi Solo, Yogya, dan pesisir ditambah pengaruh Tionghoa. Ini ditandai dengan adanya motif Lochan, ada burung phoenix versi lokal dan lung-lungan yang tajam," ungkapnya.
Sebagai daerah yang berada di lereng Gunung Ungaran, lanjutnya, ada nama kampung Patoman di Ambarawa.
"Patoman itu nama lain indigofera, pewarna alam pembentuk warna biru. Banyak tumbuh di perkebunan," kata Mahfud.
Baginya, ini merupakan petunjuk bahwa Ambarawa termasuk sentra batik. Dari pengarsipan yang tersimpan di Tropenmuseum dan Museum Leiden Belanda, diketahui dalam dokumen tersebut tertulis tahun 1867.
"Jika dokumennya saja tertulis tahun 1867, tentu sejarah batik Ambarawa lebih lama daripada itu. Sedikit demi sedikit sejarah batik patroon Ambarawa mulai terbuka," jelas Mahfud.
Saat ini, ungkap Mahfud, didirikan Komunitas Batik Patroon 1867 Ambarawa.
Selain untuk membuka sejarah mengenai batik itu sendiri, juga sebagai upaya pelestarian.
"Kami melakukan produksi batik patroon Ambarawa untuk pengenalan kepada generasi penerus," paparnya. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menelusuri Jejak Batik Patroon Ambarawa yang Hilang, Sempat Jaya di Tahun 1920-an".