Berita Semarang
Jejak Batik Patroon Ambarawa Terungkap dari Arsip di Belanda, Ada 18 Pola yang Dikembangkan
Kabar terkait arsip mengenai batik Ambarawa yang tersimpan di Belanda, membuat Derry Gunadi bersemangat.
TRIBUNBANYUMAS.COM, UNGARAN - Kabar terkait arsip mengenai batik Ambarawa yang tersimpan di Belanda, membuat Derry Gunadi bersemangat. Sejak lama, Derry menelusuri jejak batik Ambarawa yang dikenal sebagai batik patroon.
Kabar terkait arsip itu diterima Derry dari seorang teman di Jawa Timur, Oktober 2020.
Dari informasi awal tersebut diketahui, terdapat 18 pola batik Ambarawa.
Mengetahui ada jejak batik Ambarawa yang telah lama hilang, Derry langsung berkomunikasi dengan teman-temannya, di antaranya Mahfud Fauzi, pamong budaya Kabupaten Semarang dan seniman Rengga Dumadi.
"Kami terus menggali asal-usul dan semua hal mengenai batik Ambarawa tersebut. Saat ini, sudah ada 83 pola yang diketahui," jelasnya saat ditemui di Rumah Produksi Batik Patroon Ambarawa, Dusun Poncol, Desa Poncol Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang, Rabu (28/4/2021).
Baca juga: 77 Dusun di Kabupaten Semarang Rawan Kekeringan, BPBD Siapkan Bantuan 163 Tanki Air Bersih
Baca juga: Mengintip Aktivitas Ponpes Lansia Banyubiru Semarang kala Ramadan: Santri Mengaji dan Ikut Pelatihan
Baca juga: Api Tiba-tiba Nyambar Pom Mini di Banyumanik Semarang, Dua Warga Dilarikan ke Rumah Sakit
Baca juga: Wali Kota Semarang Sidak Kantor Kelurahan Muktiharjo Kidul, Minta Kembalikan Uang Pungli Rp 300 Ribu
Derry mengaku, sangat mencari referensi mengenai batik patroon Ambarawa karena selama beberapa saat hilang.
"Terakhir, ada informasi mengenai batik Ambarawa itu sekira tahun 1965-an namun setelahnya tidak ada lagi. Jadi, ini harus diselamatkan dengan mencari data pendukung meski menggunakan Bahasa Belanda," ungkapnya.
Pada era 1927-1930-an, batik patroon Ambarawa menuai kejayaan. Bahkan, saat itu, ada delapan pabrik dengan delapan toko yang terhitung besar.
"Setiap pabrik memiliki toko sendiri-sendiri. Tapi, dimana toko dan pabriknya, memang missing dimana lokasinya dan kita terus melacaknya," paparnya.
Meski pabrik pembuatan batik ada di Ambarawa, tapi untuk finishing pewarnaan, dikerjakan di kota lain.
Warna batik merah atau bangbangan di Pati, warna biru atau biron di Temanggung, dan warna hitam atau Kelengan dikerjakan di Ponorogo.
"Saat itu, setiap bulan, setidaknya bisa mengirim dua gerbong. Tapi setelah Jepang masuk Indonesia, tidak ada lagi pengiriman," ungkapnya.
Setelah itu, tidak ada lagi jejak mengenai batik patroon Ambarawa.
"Sempat dalam forum diskusi, ada yang menyampaikan mengenai orangtuanya pada 1965-an berbisnis batik, tapi ini masih kami telusuri lagi," kata Derry.
Sementara, Mahfud Fauzi mengungkapkan, ciri khas batik patroon Ambarawa adalah persilangan antara akulturasi budaya Solo, Yogya, dan pantura.