Berita Kesehatan
ASI Bisa Mencegah Stunting, Ini Tanaman yang Bisa Memperlancar Air Susu Ibu
Tanaman Torbangun digunakan secara turun menurun untuk menstimulus air susu ibu (ASI).
TRIBUNBANYUMAS.COM - Tanaman Torbangun digunakan secara turun menurun untuk menstimulus air susu ibu (ASI). Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB Rizal M Damanik mengatakan, tanaman torbangunan memiliki sifat laktagogum dan telah dimanfaat oleh masyarakat suku Batak sebagai stimulasi ASI.
"Daun Torbangun telah dimuat dalam formularium obat herbal asli Indonesia sebagai pelancar ASI dan Handbook of Dietary and Nutritional Aspect of Human Breastmilk tahun 2013 oleh Wageningen Academic Publishers," ucap dia, melansir laman IPB, Senin (26/4/2021).
Dia mengaku, ketika ibu memberikan ASI eksklusif kepada anak hingga berusia dua tahun, maka bisa menjadi salah satu langkah awal menurunkan terjadinya risiko stunting.
Baca juga: Penelitian IPB, Tiga Tanaman Herbal Ini Bisa Jadi Obat Ampuh Redakan Asam Urat
Baca juga: Cerita Dosen Undip Ciptakan Masker Herbal, Diklaim Bisa Memfilter Polusi Udara
Baca juga: Cerita Petani Berlomba Budidaya Porang, Bisa Mendadak Jadi Miliader, Dahulu Dianggap Tanaman Liar
Baca juga: BKSDA Jateng Temukan Tanaman Mangrove Kategori Langka di Segara Anakan Cilacap, Ini Cirinya
Kandungan gizi yang lengkap pada ASI, kata dia, bisa memenuhi kebutuhan bayi, termasuk mencegah stunting.
Permasalahan stunting di Indonesia
Stunting merupakan fenomena kekurangan gizi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan otak anak.
Masalah stunting menjadi satu masalah gizi yang terjadi pada anak-anak di Indonesia.
Jika mengalami stunting, lanjut dia, itu menandakan anak mengalami gangguan tumbuh dan berkembang.
"Anak-anak itu juga berpotensi mengalami gangguan kualitas otak anak yang akan menentukan masa depan anak, keluarga dan bangsa," ucap pria yang juga menjabat sebagai Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN.
Dia juga mengatakan, anak stunting berisiko gagal sosial dan ekonomi.
Oleh karena itu, dia berharap, orangtua, keluarga, masyarakat dan bangsa, sama-sama turut bertanggung jawab mencegah stunting pada anak-anak.
Berdasarkan data Unicef, mereka memperkirakan, pandemi Covid-19 dapat menyebabkan peningkatan jumlah kasus stunting, itu akibat kekurangan gizi akut sebanyak 15 persen.
"Jumlah ini setara dengan tujuh juta kasus di seluruh dunia," jelas dia.
Kabid Latbang BKKBN Sumatera Utara, Lafalinda turut menanggapi masalah stunting.
Dia menjelaskan, kondisi stunting pada masa pandemi Covid-19 dapat disebabkan oleh terhambatnya akses ibu dan anak dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dan turunnya kunjungan pemeriksaan kehamilan dan pelayanan kesehatan bayi, balita, dan anak.
Baca juga: Pertamina Jamin Stok dan Pasokan Elpiji di Jateng dan DIY selama Ramadan dan Idulfitri Aman
Baca juga: Pemkot Semarang Mulai Bangun Pos Penyekatan Pemudik di 9 Titik Perbatasan, Ini Lokasinya
Baca juga: Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana di Banyumas: Puluhan Kendaraan Konvoi, Warga Pukul Kentongan
Baca juga: Almond Cake dengan Irisan Kurma Cocok untuk Buka Puasa Sore Nanti, Ini Resepnya
Lalu, terbatasnya layanan imunisasi dan kegiatan pemantauan perkembangan dan pertumbuhan bayi dan balita serta kegiatan posyandu yang diberhentikan karena fokus pada penanganan Covid-19.
Direktur Politeknik Kesehatan Bandung, Osman Syarief juga andil bicara.
Dia menyatakan, faktor penyebab stunting secara langsung disebabkan oleh asupan gizi dan status kesehatan.
"Adapun penyebab secara tidak langsung stunting adalah ketahanan pangan, lingkungan sosial, lingkungan kesehatan, dan lingkungan pemukiman," pungkas dia. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Guru Besar IPB: Tanaman Ini Pelancar ASI Buat Ibu-ibu".