Breaking News:

Berita Jawa Tengah

Perapal Kisah Nabi itu Bernama Yanuri Sutrisno, Beginilah Cerita Seniman Kentrung Asal Blora

Warga Desa Sendanggayam RT 05 RW 01, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora ini menganggap kentrung tidak sekadar kesenian.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: deni setiawan
TRIBUN BANYUMAS/RIFQI GOZALI
Yanuri saat bermain kentrung di teras rumahnya di Desa Sendanggayam, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Sabtu (10/4/2021). 

"Ada doanya sebelumnya,” kata dia kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (10/4/2021).

Kisah-kisah yang dirapalkan saat Yanuri bermain kentrung bersumber dari Serat Ambiya atau Tapel Adam.

Serat tersebut merupakan karya Yasadipura II atau juga dikenal RT Ronggawarsita I atau RT Sastranegara.

Karya tersebut, menurut Nancy K Florida adalah buku berisi kisah para nabi atau sejarah tebal yang tergolong sejarah sakral Islam.

Karya itu berisi tentang penciptaan semesta sampai dengan kisah-kisah nabi.

Semula Yanuri memiliki salinan Serat Ambiya warisan ayahnya.

Namun kini telah tiada setelah dipinjam oleh kiai setempat, dan kemudian dipinjamkan lagi ke orang lain.

Bagi Yanuri tidak ada masalah, karena dia telah hafal kandungan kisah di dalam serat tersebut.

“Saya sudah pernah berusaha mencari (salinan Serat Ambiya), tapi tidak ketemu,” kata Yanuri.

Dari kisah-kisah nabi, kisah kelahiran Nabi Ibrahim adalah kisah yang paling sering dilantunkan Yanuri.

Bukan tanpa alasan, seringkali Yanuri tampil atas undangan syukuran atau hajatan yang memang pemilik hajat menginginkan kisah itu yang disampaikan.

“Kelahiran Nabi Ibrahim itu biasanya juga diminta saat syukuran kelahiran anak,” kata dia.

Kini, saat pandemi, Yanuri mulai jarang diundang.

Sebelumnya, dalam sebulan dia bisa tampil 10 kali.

Bahkan sesekali juga diundang di sejumlah perguruan tinggi di Surakarta, Yogyakarta, atau Semarang untuk sekadar tampil barang satu atau dua jam.

"Musim penyakit seperti saat ini kalau diundang paling selesai pukul 11.00."

"Tidak sampai pagi, sebulan pun paling banyak lima kali," katanya.

Kesenian kentrung ini memang terbilang langka.

Saat ini, jarang sekali ditemui senimannya.

Karena hal tersebut, Yanuri berani mengaku bahwa dirinyalah satu-satunya seniman kentrung di Blora.

Meski demikian, Yanuri tidak mau kentrung musnah.

Dia telah menyiapkan penerusnya.

Harapan besar itu disandarkan pada keponakannya, anak dari kakak perempuannya yang kini masih berusia sekira 30 tahun, namanya Susilo Hadi Kusnoto. (Rifqi Gozali)

Baca juga: Polres Karanganyar Sudah Tentukan Lima Pos Pengamanan dan Satu Pos Terpadu, Ini Lokasinya

Baca juga: Jika Pengajuan BPBD Karanganyar Disetujui UNS, Lima Titik Rawan Longsor Ini Bakal Dipasang EWS

Baca juga: Penerimaan PBB Bertambah Rp 200 Juta di 2020, Wabup Kebumen: Padahal Lagi Masa Pandemi

Baca juga: Kelompok Tani Dapat Pinjaman Dana Talangan di Kebumen, Totalnya Capai Rp 1,5 Miliar

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved