Berita Pekalongan

Ingkar Menikahi dan Dugaan Melakukan Kekerasan, Kades di Paninggaran Pekalongan Dilaporkan ke Polisi

Seorang kades di Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, dilaporkan ke polisi oleh warganya atas tuduhan menghamili, ingkar menikahi, juga kekerasan.

Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/INDRA DWI PURNOMO
NA (27) (kiri), warga Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, didampingi ayahnya, melaporkan serang kades di Paninggaran ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pekalongan, atas dugaan menghamili, ingkar menikahi, juga kekerasan. 

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - NA (27), warga Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, melaporkan seorang kepala desa (kades) di kecamatan tersebut ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pekalongan, Rabu (24/3/2021) siang.

Pelaporan ini dilakukan setelah sang kades dituding telah menghamili dan ingkar menikahinya.

"Hari ini, saya melaporkan atas kasus, saya dihamili oleh kades yang ada di wilayah Kecamatan Paninggaran," kata NA sekeluar dari ruang SPKT Polres Pekalongan.

Baca juga: Gudang Bulog Pekalongan Masih Simpan 2000 Ton Beras dari Thailand dan Vietnam, Diimpor Tahun 2018

Baca juga: Petani di Kandangserang Pekalongan Tewas Kesetrum, Diduga Jerami yang Disunggi Sentuh Kabel Listrik

Baca juga: 65.312 Lansia di Kabupaten Pekalongan Bakal Terima Vaksinasi Covid-19, Baru Terlaksana 1.600 Orang

Baca juga: Viral, Wanita Berpakaian Pengantin Jawa Motoran di Jalanan Kota Pekalongan. Ini Faktanya

Selain melaporkan atas kasus dihamili kades, ia juga melaporkan atas ancaman dan kekerasan yang dialami.

Tidak hanya itu, dirinya juga mempunyai bukti-bukti ancaman dalam bentuk rekaman suara dan screenshot chat kades tersebut.

"Kehamilan saya berusia 11 minggu, saya dihamili di bawah ancaman. Ancamannya dalam bentuk perkataan melalui WhatsApp, telepon, atau ngomong secara langsung," imbuhnya

Na juga mengungkapkan, dirinya juga diancam mau dibunuh, disantet, dan dibikin sengsara seumur hidup.

"Saya kenal dengan kades sejak tahun 2015. Sejak pertama kenal hingga sekarang, saya sering menerima kekerasan fisik semisal dipukul, ditendang, dijambak, bahkan diludahi," ungkapnya.

Ia berharap, pelaporan ke Polres Pekalongan ini berbuah keadilan.

"Kata Pak polisi yang memeriksa tadi, kasus ini akan segera diproses," harapannya.

Saat membuat laporan itu, NA didampingi ayahnya. Lebi dari satu jam mereka berada di SPKT untuk membuat laporan.

"Rasanya campur aduk. Saya deg-degan, sedih, kecewa, kalut, panik, dan takut. Tadi malah sempat mau muntah dan pingsan. Habis itu saya minum obat," katanya.

Baca juga: 6000 Karyawan Perhutani Berpotensi Dirumahkan, Imbas Penerapan PP Penyelenggaraan Kehutanan

Baca juga: Undip dan USM Berduka, Ketua Pembina Yayasan Sekaligus Guru Besar Prof Miyasto Berpulang

Baca juga: Harga Emas Antam di Butik Emas Logam Mulia Semarang Pagi Ini, 25 Maret 2021 Rp 928.000 Per Gram

Baca juga: Kejari Periksa Lagi 4 Saksi Kasus Dugaan Korupsi APBD Kecamatan Purbalingga, Total 8 Saksi Dipanggil

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Pekalongan AKP Akhwan Nadzirin, membenarkan adanya laporan tersebut.

"Untuk saat ini, korban masih diperiksa dan dimintai keterangan oleh penyidik PPA," katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved