Breaking News:

Prakiraan Cuaca

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Jateng, 4 Daerah Ini Berstatus Siaga Banjir

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem di Jawa Tengah.

TRIBUNBANYUMAS/INDRA DWI PURNOMO
Tim SAR gabungan mengevakuasi korban banjir di Kota Pekalongan, Minggu (7/2/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem di Jawa Tengah.

Menurut BMKG, ada empat kabupaten/kota di Jateng yang berstatus siaga terkait cuaca ekstrem.

"Ada daerah yang sudah diberikan warning. Itu berdasarkan signature atau prakiraan cuaca berbasis dampak. Kalau di Jateng, dampaknya kan ada tingkatannya, yakni siaga dan waspada. Yang siaga ini yang harus diperhatikan," kata prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG Semarang, Zauyik Nana Ruslana, Selasa (9/2/2021).

Prakiraan BMKG: Jateng bagian Utara Diperkirakan Diguyur Hujan 4 Hari ke Depan, Ini Sebarannya

BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar: Jateng Siaga Satu

Setelah Banjir dan Longsor, Angin Puting Beliung Hajar Kota Semarang: Rusak Rumah dan Pasar

Banjir Genangi 18 Titik di Semarang, Gubernur Ganjar: Tolong Pastikan, Tidak Ada yang Kelaparan

Ia membeberkan, daerah yang berstatus siaga banjir karena dampak cuaca ekstrem di Jateng ada empat, yakni Pemalang, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan Batang.

Sedangkan daerah berstatus waspada meliputi Kota Semarang, Tegal, Purbalingga, Banjarnegara, Demak, Wonosobo, Kendal, Temanggung, Kudus, Pati, Jepara, Klaten Boyolali, Kota Magelang, Purworejo, dan Grobogan.

"Ini kalau dilihat kondisi, berlangsung dari 8 sampai 9 Februari, bisa juga hingga tiga hari. Dampaknya, otomatis banjir dan tanah longsor," terangnya.

Zauyik menuturkan, cuaca ekstrem ini dipicu pertemuan atau kumpulan angin di Pulau Jawa.

Lokasi ini juga disebut Intertropical Convergence Zone (ITCZ) atau zona pembentukan awan lintas tropik yakni zona pertemuan angin dari utara dan selatan ke bagian selatan garis ekuator atau khatulistiwa.

Adanya ITCZ ini menyebabkan Jawa banyak tertutup awan, yang berarti curah hujan meningkat.

"Otomatis, di Jateng terimbas juga peningkatan curah hujan karena ada pertumbuhan awan cukup signifikan. Ini sifatnya continue (berkelanjutan) jadi sebentar hujan lalu reda, hujan lagi, reda lagi, begitu terus bisa dari pagi sampai malam hari," katanya.

Tak Perlu Khawatir, Plt Bupati Kudus Jamin Penuhi Makan dan Layanan Kesehatan bagi Pengungsi Banjir

Harga Emas Antam di Pegadaian Pagi Ini, Selasa 9 Februari 2021 Rp 1.900.000 Per 2 Gram

Berniat Siapkan Sarapan bagi Pengungsi, Warga Karangjompo Pekalongan Malah Temukan Tiga Rusa

Disebut Banjir Terparah, Pemkot Pekalongan Tetapkan Status Tanggap Darurat hingga 20 Februari

Ia menambahkan, ITCZ awalnya berada di belahan bumi utara namun terus bergeser hingga belahan bumi selatan, atau sisi selatan garis ekuator, pada Januari dan Februari.

Secara bertahap, posisi zona pembentukan awan lintas tropik ini bergeser, nantinya intensitas hujan akan berkurang dan beralih musim kemarau. (*)

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: rika irawati
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved