Breaking News:

Berita Semarang

Kisah Eks Napiter di Kota Semarang, Dari Merakit Bom Hingga Dampingi Eks Napiter Lain Buka Usaha

Kesan sangar jauh dari sosok Machmudi Hariono alias Yusuf, mantan napi teroris atau eks napiter yang pernah berangkat ke Filipina untuk berjihad.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/Istimewa
Yusuf (kiri depan), eks napiter, bersama warga sedang memilih bibit lele sebagai usaha baru mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di Kota Semarang. 

"Akhirnya, saya bersama teman-teman lain pergi ke Ambon-Poso. Keinginan utama saya hanya ingin menjadi relawan di sana, ingin melihat konflik secara lebih dekat. Tidak muluk-muluk bisa belajar militer dan sebagainya, meskipun dalam perjalanannya, akhirnya mendapat latihan militer," jelasnya.

Selepas dari Ambon-Poso, ia menyeberang ke Filipina untuk menjadi kombatan perang. Di negara tersebut, kemampuannya dalam menggunakan senjata dan bom makin terlatih.

Selepas menghabiskan waktu sekira tiga tahun di Ambon-Poso hingga Filipina, Yusuf memilih kembali ke Surabaya, Jawa Timur, lantaran situasi sudah kondusif pada Juli tahun 2002.

Tidak lama kemudian, Oktober 2002, terjadi Bom Bali 1 sehingga memaksanya pergi dari Surabaya ke Kota Semarang.

Ia pergi ke Semarang bersama tiga temannya dengan dimodali oleh seseorang, sebesar Rp 20 juta.

Tujuan dia ke Semarang adalah memulai lembaran hidup baru. Sebab, dari kejadian Bom Bali I, ia mulai meragukan aksi jihad yang dilakukan lewat terorisme.

Menurutnya, pemikiran yang berlebihan yang diaplikasikan lewat jihad yang menghalalkan aksi terorisme untuk membunuh, bahkan umat islam itu sendiri, menjadi alasan paling logis yang ia yakini sebagai kesalahan.

Mereka lalu memilih mengontrak rumah di Jalan Sri Rejeki Kalibanteng Kidul, Semarang Barat, pada Januari 2003 sembari berjualan sandal dan sepatu.

"Tiga bulan pertama, kami aman-aman saja. Bulan berikutnya, pemodal kami menitipkan kami barang-barang di dalam koper besar agar disimpan di rumah tersebut," jelasnya.

Baca juga: 4 Mahasiswa Tersangka Perusakan saat Demo Tolak UU Cipta Kerja di DPRD Jateng Jadi Tahanan Kota

Baca juga: Tak Munculkan Klaster Baru Covid-19, Wakil Ketua DPRD Kota Tegal Berharap Divonis Tak Bersalah

Baca juga: Ada 1,6 Juta Kendaraan Menunggak Pajak, Bapenda Harap Pemilik Manfaatkan Program Dispensasi Denda

Baca juga: Rencana Pemekaran Banyumas, Pemkab Mulai Sosialisasikan dan Minta Masukan dari Camat serta Kades

Tak disangka, ternyata, koper itu berisi barang-barang berupa bahan peledak, peluru, dan sebagainya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved