Berita Jawa Tengah
Anak Bisa Disebut Penyebar Super, Setya Dipayana: Terpapar Tapi Tidak Merasakannya
Perlu adanya kesadaran dari masyarakat dan orangtua kepada anak dengan membuat adaptasi kebiasaan baru agar penularan itu tidak terjadi.
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Ada sekira 222 anak perempuan dan 316 laki-laki di usia antara 0 hingga 11 tahun di Jawa Tengah telah terpapar Covid-19.
Sehingga, menurut Ketua Tim Ahli Gugus Tugas Covid-19 Jawa Tengah, dr Anung Sugihantono, sudah mencapai 538 anak.
"Data itu berdasar sistem pelaporan coronajateng.go.id pada Kamis (17/9/2020) pukul 11.00," ungkap Anung seperti dilansir dari Kompas.com, Minggu (20/9/2020).
• Masuki Era Kebiasaan Baru, 60 Persen Objek Wisata di Jateng Mulai Sambut Wisatawan
• DPS Pilkada Serentak di Jateng Ada 15.559.287 Pemilih, Terbanyak di Kota Semarang
• KPU Bolehkan Konser Musik Saat Kampanye Pilkada, Gubernur Jateng: Ora Usahlah, Kanggo Ngopo
Anung mengajak masyarakat terutama orangtua untuk memberikan perhatian secara khusus terhadap anak.
Hal ini penting untuk dilakukan agar anak mendapatkan perlindungan dari bahaya penularan Covid-19.
Menurutnya, untuk mencegah terjadinya penularan, sebaiknya pembelajaran secara tatap muka ditiadakan terlebih dahulu.
Kalaupun belajar tatap buka bisa dilangsungkan tetap harus dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.
"Di sekolah yang biasanya ruangannya ber-AC dan tertutup harus dibuka agar udara bebas keluar."
"Jumlah siswanya pun harus dibatasi."
"Selain itu, ruang guru dan kepala sekolah juga harus diperhatikan agar bebas dari penyebaran Covid," kata dia.
Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr Setya Dipayana menuturkan, anak memiliki kekebalan tubuh (imunitas) yang bagus.
"Karena imunitasnya bagus, mereka kemungkinan justru menjadi asymptomatis."
"Yakni telah terpapar Covid-19 namun tidak menimbulkan gejala apa-apa karena mereka kebal," kata dia.
Akan tetapi, kata dia ketika mereka berdekatan dengan orang yang kekebalannnya menurun, maka mereka menjadi penular.
"Anak-anak bisa disebut super spreader (penyebar super)."
"Anak-anak jadi carrier (pembawa)."
"Dia bisa menyebarkan ke mana pun tanpa terdeteksi," ucap dia.
• Satu Guru Terlebih Dahulu Positif Covid-19, Menyusul Empat Lainnya di SDN Menganti 4 Cilacap
• Pegawai BNNK Cilacap Positif Corona, Brigjen Pol Benny: Mayoritas Seusai Perjalanan Luar Daerah
• Instruksi Bupati Banyumas: Seluruh Pegawai Pemkab Dilarang Pakai Masker Scuba
Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dari masyarakat dan orangtua dengan membuat adaptasi kebiasaan baru agar penularan itu tidak terjadi.
Caranya seperti yang sudah dianjurkan pemerintah yakni membiasakan anak-anak mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak.
"Harus memberikan edukasi yang jelas dengan bahasa yang mengena kepada anak-anak."
"Diberi pengertian jangan saling tukar masker karena gambar maskernya Doraemon atau gambar lainnya," tutur dia.
Sementara itu, psikolog Univeristas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Kuriake Kharismawan mengungkapkan, di masa pandemi ini, anak-anak itu terkungkung di dalam rumah.
"Oleh sebab itu agar tidak jenuh, maka di gadget pun mereka perlu dibuatkan tantangan."
"Beri mereka aneka lomba sehingga energi mereka tersalur secara positif."
"Jika dilarang terus, mereka pasti akan melanggar larangan itu dengan sembunyi-sembunyi," kata dia.
Selain itu, Kuriake juga melihat stigma pasien Covid-19 yang justru membuat mereka tersudut.
"Kami ingin masyarakat tidak memberi stigma negatif."
"Jangan dijauhi, bila mereka dinyatakan sembuh, berarti itu memang sembuh," ujar dia. (*)
Artikel ini telah tayang sebelumnya di Kompas.com berjudul "538 Anak di Jateng Terpapar Covid-19"
• KTP Tidak Diambil, Pelanggar Tak Bisa Lagi Duplikasi, Razia Masker Libatkan Dindukcapil Banyumas
• Ada Dugaan Penyelewengan Dana Retribusi Sampah di DLH Purbalingga, Kajari: Periode 2017-2018
• Waspada Ada Akun Facebook Palsu Bupati Purbalingga, Begini Cara Mudah Mendeteksinya