Berita Purbalingga
Mengenang Masa Kejayaan Pabrik Tembakau di Purbalingga, Upah Karyawan GMIT Lebihi Gaji PNS
Satu di antara pabrik yang pernah mengolah tembakau dan berjaya saat itu adalah PT Gading Mas Indonesian Tobbaco (GMIT) dan kini jadi kenangan.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: deni setiawan
Menurut dia, ada sekira 3000 wanita yang datang setiap kali panen tembakau.
Para wanita itu akan keluar kerja setiap seusai panen.
"Kalau panen mereka datang, kalau sudah selesai pada keluar."
"Jadi orang-orangnya itu saja," kata dia.

Tumbang Karena Regulasi
Menurut dia, GMIT resmi tutup pada 1981.
Hal menyebabkan kebangkrutan GMIT ketika keluarnya aturan pembatasan tenaga asing.
"Pembatasan itu bertahap awalnya hanya dijadikan direktur."
"Kemudian menyasar sampai bagian pemasaran tidak boleh orang asing," tutur dia.
Bambang, mengatakan akibat pembatasan tersebut menyebabkan hubungan bisnis antara GMIT dan Bremen tidak harmonis.
Pada akhirnya 1978, cerutu yang diekspor ke Bremen diretur ke perusahaannya.
"Mulai pengembalian dari 1978 hingga 1980."
"Selama tiga bulan kembalinya hingga 3 ribu bal."
"Padahal harga 1 bal kala itu setera mobil Mercy," tuturnya.
Ia menuturkan, kebangkrutan GMIT bukan karena produknya tidak laku.