Berita Banjarnegara
Tak Disangka, Dulu Dibuang hanya untuk Mainan di Banjarnegara, Kini Tanaman Ini Bernilai Tinggi
Tak Disangka, Dulu Dibuang hanya untuk Mainan di Banjarnegara, Kini Tanaman Ini Bernilai Tinggi
Penulis: khoirul muzaki | Editor: yayan isro roziki
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Warga Desa Pegundungan, Kecamatan Pejawaran, Banjarnegara, tak menyangka kacang macadamia kini punya nilai ekonomi tinggi.
Musababnya, tanaman ini dulu hanya dibuang dan kadangkala untuk mainan anak saja.
Tak ayal, ratusan pohon kacang macadamia (makadamia) yang tumbuh di mulanya dipandang sebelah mata oleh warga setempat.
Pepohonan macadamia di sela tanaman pokok petani dibiarkan tumbuh saja tanpa perawatan khusus.
• Pemkab Purbalingga Nonaktifkan Kades Bojanegara Terlibat Dugaan Pungli Rp 81.100 Juta
• Unpad Siap Uji Coba Vaksin Covid-19 Asal China kepada 1.620 Relawan di Bandung
• Seorang Pimpinan Rektorat Terpapar Corona, UNS Solo Tutup Sementara Kantor Pusat
• Cara Mudah Cek Kepesertaan Bansos Covid-19 Melalui Aplikasi, Simak Petunjuk Berikut Ini
Buah kacang Makadamia yang tumbuh rimbun di pohon sejak tahun 2016 lalu sama sekali tak menarik perhatian warga.
Buah itu dibiarkan tua di pohon, atau jatuh dengan sendirinya tanpa ada yang berniat mengambil.
Jika pun ada yang mengambil, mereka adalah anak-anak yang memanfaatkan kacang itu untuk mainan.
Ada juga warga yang coba menggorengnya menggunakan minyak untuk dimakan sebagai cemilan.
Dengan kata lain, tanaman itu sempat dianggap tidak ada nilai ekonominya oleh warga.
"Buahnya banyak ya dibiarkan saja. Paling buat mainan anak," kata Murti, Kepala Desa Pegundungan, Banjarnegara, Selasa (21/7/2020).
Karena dinilai tak menguntungkan, banyak petani yang memutuskan menebang pohon Macadamia di lahannya.
Murti pun demikian karena ia tak mengetahui ada nilai ekonomi yang besar di balik tanaman itu.
Alhasil, kini hanya tertinggal sekitar 200 pohon Macadamia yang masih tumbuh atau dipertahankan di desa itu.
Saat pepohonan itu mulai jarang karena banyak yang ditebang, sebuah kabar baik datang belakangan.
Ada pengusaha yang mencari-cari buah yang masih langka di Indonesia itu.