Rabu, 6 Mei 2026

Berita Cilacap

Dulu Jadi Pusat Peradaban, Guru Gembul dan Prof Aziz Tawarkan Solusi Memajukan Pesantren

kedatangan Islam menandai era modern karena membuka akses baca tulis bagi semua kalangan.

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: khoirul muzaki
Istimewa
Kreator konten Guru Gembul dan Prof. Dr. Fathul Aminudin Aziz, MM menyampaikan pandangan kritis dalam Diskusi Hari Santri Nasional 2025 bertema ‘Warna-Warni Pesantren dan Iramanya’ yang digelar di Universitas Komputama (UNIKMA) Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (30/10/2025). 

Ringkasan Berita:
  • Pesantren merupakan tonggak awal lahirnya masyarakat literasi di Indonesia. 
  • Kedatangan Islam menandai era modern karena membuka akses baca tulis bagi semua kalangan.
  • Pesantren di masa awal berperan besar dalam membangun peradaban bangsa. 

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP- Dunia pesantren mendapat banyak sorotan akhir-akhir ini. Tradisi pesantren dikritik hingga dianggap mengalami kemunduran di banding periode awal sejarahnya. 

Pandangan kritis ini terungkap dalam Diskusi Hari Santri Nasional 2025 bertema ‘Warna-Warni Pesantren dan Iramanya’ yang menghadirkan Kreator konten Guru Gembul dan Prof. Dr. Fathul Aminudin Aziz, MM di Universitas Komputama (UNIKMA) Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (30/10/2025).

Dalam diskusi yang dipandu rektor UNIKMA, Dr Fikria Najitama, M.S.I, keduanya mengulas secara mendalam tentang posisi pesantren dalam sejarah Indonesia, tantangan modernisasi, hingga peran pemerintah terhadap lembaga pendidikan Islam.

Prof. Dr. Fathul Aminudin Aziz, Dewan Penyelenggara UNIKMA menyoroti faktor struktural di balik kemunduran pesantren. Ia menyoroti lemahnya peran negara yang menjadi akar persoalan utama.

“Kalau pondok pesantren asli masih meminta-minta di jalan, berarti peran pemerintah belum maksimal. Negara belum benar-benar menjalankan amanat UUD 1945 untuk mencerdaskan dan menyejahterakan rakyat,” kata Prof Aziz. 

Prof. Aziz menyoroti ketimpangan alokasi anggaran dan birokrasi pendidikan yang meminggirkan pesantren. Padahal pesantren seharusnya menjadi lembaga paling dihormati karena hadir lebih dulu daripada negara.

“Kenyataannya, pesantren hanya ditempelkan pada Kementerian Agama, bahkan satu fakultas di perguruan tinggi bisa lebih besar anggarannya daripada seluruh pesantren,” ungkapnya dengan nada kritis.

Baca juga: Serbu Festival Semesta Buku 2025, Gramedia Purwokerto Kasih Diskon Hingga 90 Persen

Meski begitu, Prof Aziz menilai  pesantren harus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai tradisi.

Prof. Aziz juga memaparkan karya kitab Jauharul Idarah untuk mendorong kemampuan berpikir kritis di kalangan santri. 

Ia berharap pesantren mampu menyeimbangkan antara tradisi, akal, dan iman.

Guru Gembul menjelaskan, pesantren merupakan tonggak awal lahirnya masyarakat literasi di Indonesia. Ia mengutip teori sejarawan MC Ricklefs yang menyebutkan bahwa kedatangan Islam menandai era modern karena membuka akses baca tulis bagi semua kalangan.

“Pesantren adalah lembaga pertama yang memberikan kesempatan belajar bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang kasta atau agama,” ujarnya.

Ia mengungkap, pesantren masa awal berperan besar dalam membangun peradaban bangsa. Dari Gresik hingga Cirebon, pesantren menjadi pusat dakwah, pengobatan, dan pengembangan masyarakat.

Namun kini, disayangkan, semangat itu mulai luntur.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved