Berita Nasional
Raih 700 Piala dan Segudang Prestasi, Siswi Ini Tak Diterima di SMA Manapun, Hanya Berharap Ini
Raih 700 Piala dan Segudang Prestasi, Siswi Ini Tak Diterima di SMA Manapun, Hanya Berharap Ini
Pemicu utama Aristawidya Maheswari, alumni SMPN 92 Jakarta ini, tak diterima di SMA negeri manapun hingga kini, karena faktor usia yang menjadi acuan utama PPDB jalur zonasi. Siswi berusia 15 tahun 8 bulan tersebut, kalah saing dengan anak-anak yang memiliki umur lebih tinggi darinya.
TRIBUNBANYUMAS.COM, JAKARTA - Punya segudang prestasi dan meraih 700-an piala, nyatanya tetap membuat Aristawidya Maheswari (15), kesulitan masuk SMA Negeri manapun di Jakarta.
Ia selalu gagal dan tersisihkan oleh calon siswa lain saat proses proses pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online 2020.
Tentu saja, hal ini membuat anak yatim piatu alumni SMPN 92 Jakarta ini, bersedih karena hingga kini belum ada SMA negeri yang mau menerimnya.
Kini, ia hanya berhadap ada bangku kosong di SMA negeri, sehingga ia bisa diterima di sekolah tersebut, dengan mengisi kekosongan bangku itu.
• 6 Hari Sudah Terima 1.283 Aduan Proses PPDB Jateng, Begini Sikap Gubernur Ganjar Pranowo
• Nenek 76 Tahun Nyaris Jadi Korban Perkosaan, Disekap Pria Tak Berbusana saat Mandi di Kalbar
• Rp500 Juta Hangus Jadi Abu, Nilai Kerugian Kebakaran Pabrik Tahu dan Rumah di Banjarnegara
• GOR Satria Kembali Dijadikan Tempat Karantina, New Normal Kasus Covid-19 di Banyumas Melonjak
Remaja putri bernasih kurang beruntung ini, kini tinggal bersama nenek dan kakeknya di Rusun Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta Timur.
Pemicu utama ia tak diterima di SMA negeri manapun hingga kini karena faktor usia yang menjadi acuan utama PPDB jalur zonasi.
Siswi yang berusia 15 tahun 8 bulan tersebut, kalah saing dengan anak-anak yang memiliki umur lebih tinggi darinya.
Menurut Siwi Purwanti (60), nenek Arista, satu-satunya harapan terakhir Arista adalah mencari kuota bangku kosong yang tak diisi oleh peserta yang telah terdaftar lolos seleksi.
"Kami masih mau mencoba jalur terakhir, mencari kuota bangku kosong," kata Siwi saat dikonfirmasi, Sabtu (4/7).
Bangku kosong biasanya tersedia lantaran sejumlah siswa yang telah terdaftar lolos melalui jalur inklusi, afirmasi, zonasi, prestasi atau bahkan bina RW, tak melakukan pendaftaran ulang.
"Di saat akhir, kalau ada sekolahan yang sisa kuotanya, bisa daftar lagi, tapi enggak semua sekolah," jelasnya.
Siwi masih harus mencari sekolah yang menyediakan bangku kosong untuk cucunya. Arista pun juga harus bersaing dengan banyak calon murid yang juga mengincar kuota bangku kosong.
"Misalnya kan ada jatah inklusi 2 kuotanya, tapi enggak ada yang daftar, kuota itu untuk jalur tahap akhir, cuma memang enggak semua sekolah yang menyediakan bangku kosong," ucap Siwi.
Sebelumnya, berbagai prosedur tahap PPDB 2020 telah ditempuhnya untuk mendaftarkan cucunya di sekolah negeri.