Teror Virus Corona
Rapid Test Virus Corona, Bagaimana Cara Kerjanya dan Siapa Jadi Piroritas? Berikut Penjelasannya
Rapid Test Virus Corona, Bagaimana Cara Kerjanya dan Siapa Jadi Piroritas? Berikut Penjelasannya
Rapid Test Virus Corona, Bagaimana Cara Kerjanya dan Siapa Jadi Piroritas? Berikut Penjelasannya
TRIBUNBANYUMAS.COM - Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI), Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, memberikan penjelasan mengenai rapid test virus corona.
Ia menjelaskan bagaimana cara kerja rapid test dan siapa saja yang menjadi prioritas untuk dilakukan test.
Menurutnya, orang dalam pemantauan (ODP) virus corona adalah mereka yang diprioritaskan untuk menjalani rapid test.
Penjelasan Dekan FK UI soal rapid test ini dilakukan melalui konferensi pers daring #FKUIPeduliCovid19 pada Jumat (27/3/2020).
• Perekonomian Tedampak Virus Corona, OJK Keluarkan Aturan Relaksasi Kredit. Berikut Fakta-faktanya
• Personel Sat Lantas Periksa Penumpang Bus di Terminal Tipe A Cilacap: Kami Juga Sterilisasi Bus
• Rumah Dinas Bupati Batang Bakal Dijadikan RS Darurat, Bupati: Itu Pilihan Alternatif Ketiga
• Video PDP Asal Cilacap yang Meninggal di RS Purwokerto Positif Corona
Hal ini untuk menjawab keingintahuan masyarakat mengenai rapid test yang mulai dilakukan di sejumlah daerah.
Untuk diketahui, ODP merupakan orang-orang yang memiliki gejala virus corona ringan, seperti demam dan pilek, dan memiliki riwayat kontak dengan orang yang suspek atau sudah positif corona.
Cara kerja rapid test
Di Jawa Barat, merek rapid test yang digunakan adalah Wondfo.
Sementara itu, di DKI Jakarta, merek rapid test yang digunakan adalah VivaDiag.
Baik Wondfo maupun VivaDiag menguji antibodi SARS-CoV-2, Immunoglobulin G (IgG) dan Immunoglobulin M (IgM), yang terdapat pada sampel darah.
Ketika sampel darah masuk, antibodi IgG dan/atau IgM yang terdapat dalam darah akan bereaksi dan menimbulkan warna pada rapid test.
• Local Lock Down Tegal, Bus Harus Turunkan Penumpang di Terminal
Metode ini disebut Lateral Flow Assay.
Akan tetapi, harus dicatat bahwa rapid test bisa menimbulkan hasil negatif palsu jika orang yang dites berada dalam window period infeksi.
Pasalnya, ketika masih belum bergejala (asimptomatik) atau masih dalam periode inkubasi, IgM atau IgG belum dapat dideteksi oleh rapid test.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/rapid-test-mulai-digelar-hari-ini-simak-kriteria-prioritasnya.jpg)