Berita Pendidikan

Punya Tunggakan Biaya, Tiga Siswa SMK di Semarang Dikeluarkan Grup WA Kelas, Tak Bisa Ikut UASBN

Karena orangtua belum bisa melunasi tunggakan biaya SPP maupun pembayaran UASBN, ketiganya tidak bisa mengikuti ujian tersebut.

Penulis: Muhammad Sholekan | Editor: deni setiawan
FREEPIK.COM
ILUSTRASI seorang pelajar sedang dibimbing oleh guru les privat dalam suatu materi pembelajaran. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Pada masa wabah virus corona ini melanda seluruh benua di dunia atau pandemi, beberapa sekolah di Indonesia mengeluarkan kebijakan belajar di rumah secara online.

Di Jawa Tengah, sejak beberapa waktu lalu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo telah mengeluarkan instruksi tersebut kepada seluruh sekolah.

Kebijakan itu juga mempengaruhi secara teknis pelaksanaan ujian sekolah.

Lockdown Local Full Bakal Diberlakukan di Tegal, Wali Kota: Dilematis Tapi Lebih Baik Saya Dibenci

Pasien Positif Virus Corona Jateng Naik Dua Kali Lipat, Ganjar Minta Ketegasan Kepala Daerah

Khasiat Kayu Bajakah Kalimantan dan Ciu Wlahar, Bahan Membuat Hand Sanitizer Cegah Virus Corona

Nekat Gelar Resepsi Pernikahan, Wakapolres Kendal: Tak Segan Langsung Kami Bubarkan

Sejak Senin (23/3/2020) hingga Sabtu (28/3/2020) sekolah di tingkat SMA atau SMK di Jawa Tengah sedang menggelar Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN).

Namun nahas bagi ketiga peserta didik Kelas XII Perawat SMK Husada Nusantara Semarang ini.

Karena orangtua belum bisa melunasi tunggakan biaya SPP maupun pembayaran UASBN, ketiganya tidak bisa mengikuti ujian tersebut.

Tiga siswa itu berinisial AFA (20), PDS (17), dan LNA (18).

Mereka adalah warga Kota Semarang.

Bahkan mereka sejak Kamis (26/3/2020) siang, dikeluarkan dari grup Whatsapp kelas tersebut.

"Untuk soal dan jadwal US padahal dibagi di grup itu. Kami, sejak siang dikeluarkan."

"Padahal masih ada 6 mata pelajaran yang belum selesai," ungkap AFA kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (26/3/2020) sore.

Dia pun bercerita apabila dirinya masih mempunyai tunggakan SPP sebesar Rp 400 ribu dan biaya ujian sekolah Rp 1,6 juta.

"Untuk UN bayarnya juga Rp 1,6 juta. Ibu sudah ke sekolah tadi siang, sudah dicicil."

"Kata sekolah boleh nyicil," ucapnya.

Sementara itu, PDS menyebut siswa yang dikeluarkan dari grup adalah yang belum selesai pembayaran atau masih ada tunggakan.

"Orangtua kami disuruh datang untuk menyelesaikan pembayaran di sekolah."

"Berhubung yang dikeluarin dari grup itu dari keluarga yang biasa-biasa saja, jadi ya kami cuma bisa nyicil terlebih dahulu," ungkapnya.

Dia menuturkan, belum mengetahui Jumat (27/3/2020) akan dimasukkan kembali ke grup atau tidak.

Dia menyampaikan, apabila ada siswa yang sama sekali tidak menyicil ke sekolah tidak boleh ikut ujian sekolah, namun diikutsertakan pada ujian susulan.

"Kalau tunggakan saya di sekolah sekira Rp 12 juta. Kalau untuk bayar langsung lunas, orangtua belum sanggup," ucapnya.

Sementara itu, wali kelas ketiga siswa tersebut, Nailis ketika dihubungi Tribunbanyumas.com melalui pesan Whatsapp, hanya membaca pesan tanpa merespon. (Muhammad Sholekan)

Penasaran Lockdown Local Full Kota Tegal, Gubernur Ganjar Tanya Jumadi, Begini Penjelasannya

Tidak Bakal Ditilang, Dispensasi Khusus Perpanjangan SIM, Ini Penjelasan Lengkap Polda Jateng

Warga Jangan Ngeyel Apalagi Nyepelekan, Sekda Cilacap: Butuh Kekompakan Guna Cegah Virus Corona

Satu Warga Kabupaten Semarang Positif Corona, Sudah Diisolasi di RSUD KRMT Wongsonegoro

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved