Opini Mahasiswa
Waspada Adiksi Internet: Saat Aparatur Terperangkap Dunia Maya
Ledakan transformasi digital dalam birokrasi pemerintahan ibarat pedang bermata dua.
Oleh: Sugeng Dwi Harianto
Mahasiswa Magister Komunikasi Penyiaran Islam UIN SAIZU Purwokerto.
Ledakan transformasi digital dalam birokrasi pemerintahan ibarat pedang bermata dua, yang mana di satu sisi mempercepat layanan publik, namun di sisi lain beresiko membuka pintu lebar bagi fenomena "cyberloafing" dan adiksi internet kronis.
Fenomena ini bukan sekadar masalah disiplin kerja, melainkan gangguan psikologis serius yang mulai menggerogoti produktivitas Aparatur Sipil Negara.
Baca juga: Opini: Lindungi Perempuan Disabilitas dari Jerat Eksploitasi
Berdasarkan penilaian menggunakan instrumen Internet Addiction Test (IAT) yang dikembangkan oleh Dr. Kimberly Young, banyak pegawai yang tanpa sadar telah melewati batas penggunaan fungsional menuju perilaku patologis.
Kuesioner Dr. Young mengajukan pertanyaan krusial untuk membedakan apakah seorang pegawai hanya menggunakan internet sebagai alat bantu kerja atau sedang terperosok ke dalam masalah besar yang merusak ritme profesionalisme.
Ketika seorang pegawai mulai mengabaikan tugas pokok demi kepuasan sesaat di dunia maya, atau merasa cemas saat tidak terhubung dengan jaringan, maka struktur pelayanan publik sedang berada dalam ancaman inefisiensi yang nyata.
Dalam konteks birokrasi modern, penggunaan internet sebenarnya merupakan kebutuhan yang tidak terpisahkan dari proses kerja sehari-hari.
Sistem administrasi digital, komunikasi antarinstansi, hingga pengelolaan data pemerintahan kini bergantung pada konektivitas jaringan yang stabil dan cepat.
Namun, kemudahan akses tersebut sering kali tidak diiringi dengan kontrol diri dan regulasi penggunaan yang memadai.
Tanpa pengawasan yang jelas serta kesadaran etika digital yang kuat, batas antara penggunaan internet untuk kepentingan pekerjaan dan kepentingan pribadi menjadi semakin kabur.
Kondisi inilah yang secara perlahan membuka ruang bagi munculnya perilaku penggunaan internet yang tidak sehat di lingkungan kerja pemerintahan.
Fenomena tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mendasar mengenai apa yang sebenarnya mendorong seseorang menggunakan internet secara berlebihan di lingkungan kerja.
Tidak semua pegawai yang memiliki akses internet menunjukkan tingkat penggunaan yang sama, sehingga terdapat faktor-faktor tertentu yang memengaruhi kecenderungan seseorang untuk terlibat dalam penggunaan internet yang tidak terkendali.
Faktor psikologis, tekanan pekerjaan, kejenuhan terhadap rutinitas birokrasi, hingga kebutuhan untuk mencari pelarian dari stres kerja menjadi aspek yang sering kali berperan secara tidak disadari.
| Peran Perkembangan Ilmu Kimia terhadap Kualitas Hidup Manusia: Kajian Literatur |
|
|---|
| Kemodernan Arab: Paradoks Antara Neo-Patriarki dan Absolutisme Kekuasaan |
|
|---|
| Manajemen Kinerja di Persimpangan: Dari Obsesi Angka Menuju Penguatan SDM yang Bermakna |
|
|---|
| Manajemen Operasional di Era Disrupsi: Tantangan dan Arah Baru 2025 |
|
|---|
| RSUD Banyumas Dorong Penggunaan Aplikasi JKN Mobile lewat Fitur Referral Code |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/opini-Sugeng-Dwi-Harianto.jpg)