Selasa, 28 April 2026

Opini Mahasiswa

Waspada Adiksi Internet: Saat Aparatur Terperangkap Dunia Maya

Ledakan transformasi digital dalam birokrasi pemerintahan ibarat pedang bermata dua.

DOKUMENTASI PRIBADI
Sugeng Dwi Harianto, Mahasiswa Magister Komunikasi Penyiaran Islam UIN SAIZU Purwokerto. 

Oleh: Sugeng Dwi Harianto

Mahasiswa Magister Komunikasi Penyiaran Islam UIN SAIZU Purwokerto.

Ledakan transformasi digital dalam birokrasi pemerintahan ibarat pedang bermata dua, yang mana di satu sisi mempercepat layanan publik, namun di sisi lain beresiko membuka pintu lebar bagi fenomena "cyberloafing" dan adiksi internet kronis.

Fenomena ini bukan sekadar masalah disiplin kerja, melainkan gangguan psikologis serius yang mulai menggerogoti produktivitas Aparatur Sipil Negara.

Baca juga: Opini: Lindungi Perempuan Disabilitas dari Jerat Eksploitasi

Berdasarkan penilaian menggunakan instrumen Internet Addiction Test (IAT) yang dikembangkan oleh Dr. Kimberly Young, banyak pegawai yang tanpa sadar telah melewati batas penggunaan fungsional menuju perilaku patologis.

Kuesioner Dr. Young mengajukan pertanyaan krusial untuk membedakan apakah seorang pegawai hanya menggunakan internet sebagai alat bantu kerja atau sedang terperosok ke dalam masalah besar yang merusak ritme profesionalisme.

Ketika seorang pegawai mulai mengabaikan tugas pokok demi kepuasan sesaat di dunia maya, atau merasa cemas saat tidak terhubung dengan jaringan, maka struktur pelayanan publik sedang berada dalam ancaman inefisiensi yang nyata.

Dalam konteks birokrasi modern, penggunaan internet sebenarnya merupakan kebutuhan yang tidak terpisahkan dari proses kerja sehari-hari.

Sistem administrasi digital, komunikasi antarinstansi, hingga pengelolaan data pemerintahan kini bergantung pada konektivitas jaringan yang stabil dan cepat.

Namun, kemudahan akses tersebut sering kali tidak diiringi dengan kontrol diri dan regulasi penggunaan yang memadai.

Tanpa pengawasan yang jelas serta kesadaran etika digital yang kuat, batas antara penggunaan internet untuk kepentingan pekerjaan dan kepentingan pribadi menjadi semakin kabur.

Kondisi inilah yang secara perlahan membuka ruang bagi munculnya perilaku penggunaan internet yang tidak sehat di lingkungan kerja pemerintahan.

Fenomena tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mendasar mengenai apa yang sebenarnya mendorong seseorang menggunakan internet secara berlebihan di lingkungan kerja.

Tidak semua pegawai yang memiliki akses internet menunjukkan tingkat penggunaan yang sama, sehingga terdapat faktor-faktor tertentu yang memengaruhi kecenderungan seseorang untuk terlibat dalam penggunaan internet yang tidak terkendali.

Faktor psikologis, tekanan pekerjaan, kejenuhan terhadap rutinitas birokrasi, hingga kebutuhan untuk mencari pelarian dari stres kerja menjadi aspek yang sering kali berperan secara tidak disadari.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved