Selasa, 16 Juni 2026

Opini

Arsitektur Neoliberal adalah Delusi Besar

Tulisan ini merupakan resensi dari buku pertama. Buku yang mengingatkan penulis pada nasihat perempuan tua, seorang veteran tentara

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Rustam Aji
IST/istimewa
PENULIS - Agus Rizal (Ekonom Univ MH Thamrin). Menelaah buku The Great Delusion: Liberal Dreams and International Realities, karya John J. Mearsheimer. 

Kontra-skema terhadap delusi tersebut, menurut Mearsheimer, adalah nasionalisme. Manusia, katanya, pada dasarnya terlahir tribal. Solidaritas paling kuat muncul bukan dari abstraksi universal, melainkan dari rasa senasib sebagai sesama warga negara. Manusia bukan individu atomistik yang sepenuhnya bebas dari sejarah, budaya, dan identitas kolektifnya. Kemampuan rasional manusia untuk mencapai kesepakatan universal tentang apa yang disebut kehidupan yang baik ternyata sangat terbatas. Karena itu, perbedaan moral dan pertentangan kepentingan merupakan bagian inheren dari kehidupan politik.

Nasionalisme sebagai Kekuatan

Dari realitas tersebut, nasionalisme tumbuh menjadi salah satu kekuatan politik paling tangguh dalam sejarah modern. Setiap bangsa menghendaki hak untuk menentukan nasibnya sendiri melalui negara yang diyakini mampu menjaga keselamatan komunitasnya. Ketika nasionalisme berbenturan dengan liberalisme universal, kesetiaan warga negara hampir selalu berpihak kepada bangsanya sendiri. Orang lebih mudah menangis melihat penderitaan sesama warga negaranya daripada tersentuh oleh hak-hak abstrak yang berjarak ribuan kilometer.

Refleksi itu terasa relevan dengan Indonesia saat ini. Ketika tekanan ekonomi dari pihak asing datang dalam bentuk yang dianggap mengancam kedaulatan nasional, baik melalui tekanan lembaga internasional, perang dagang, ketergantungan pasar, maupun narasi ekonomi yang dipersepsikan merugikan kepentingan nasional justru yang tumbuh di tengah masyarakat bukanlah tepuk tangan meriah menyambut "penyelamat" dari luar. Yang muncul justru nasionalisme. 

Semakin kuat suatu bangsa merasa didikte, semakin besar pula dorongan untuk mempertahankan martabat kolektifnya. Warga negara mungkin berbeda pilihan politik, berbeda keyakinan, berbeda kelas sosial, bahkan saling berdebat dalam kehidupan sosialnya. Namun ketika muncul persepsi bahwa kepentingan nasional sedang ditekan atau diserang oleh kekuatan eksternal, batas-batas perbedaan itu sering kali runtuh dan bersatu.

 Nasionalisme menemukan momentumnya. Ia hadir bukan tanpa alasan, melainkan sebagai naluri mempertahankan rumah bangsa sendiri. Dalam konteks itulah, tesis Mearsheimer menemukan gaungnya. Tekanan dari luar tidak selalu menghasilkan kepatuhan; sering kali justru melahirkan perlawanan.

Baca juga: Klaim Harga BBM Terjangkau UMR Jateng, Pertamina Disoraki Mahasiswa

Upaya mengarahkan suatu bangsa agar berjalan sesuai rancangan pihak lain dapat berujung pada efek sebaliknya: memperkuat identitas nasional dan menegaskan kembali keinginan untuk menentukan nasib sendiri. Sebab, bangsa bukan budak yang menunggu honor dari majikan asing. Bangsa adalah penghuni rumah yang ingin tetap memegang kunci pintunya sendiri tanpa didikte negara lain.

Mungkin inilah ironi terbesar dari proyek-proyek penyelamatan universal. Mereka berharap memperoleh tepuk tangan, tetapi yang terdengar justru dentuman kesadaran nasional. Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa warga negara lebih mudah memaafkan kekeliruan yang lahir dari bangsanya sendiri daripada menerima kebaikan yang datang bersama nada invasi dari luar.

Pada akhirnya, implikasi The Great Delusion terasa begitu dekat dengan pesan terakhir perempuan tua dari Montreal itu: niat baik sekalipun dapat berubah menjadi sumber kekacauan apabila melupakan batas-batas realitas politik. Tidak semua luka meminta dijahit oleh tangan asing. Tidak semua rumah yang tampak berantakan membutuhkan penyelamat dari luar rumah tinggal. Dalam dunia yang dipenuhi identitas, kepentingan, dan perebutan kuasa, mimpi tentang tatanan global yang seragam mungkin bukan sekadar khayalan. Namun dapat menjadi delusi besar: keyakinan yang merasa dirinya malaikat, padahal kerap datang membawa bayang-bayang perang dan penguasaan.

Mungkin, karena itu aku masih terus mengingat perempuan tua dari Montreal tersebut. Ia pernah mengenakan seragam perdamaian, tetapi justru mengajarkanku untuk curiga pada kesombongan negara barat yang menyamar sebagai belas kasihan pada negara berkembang. Tidak semua pertolongan adalah penyelamatan. Tidak semua niat baik, berakhir baik. Dan terkadang, cara paling bermartabat menghormati suatu bangsa adalah membiarkannya menentukan jalan ideologi sendiri dengan jalan yang mandiri: menjadi martabatif, modern dan menyemesta.(*)

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
Live
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
VS
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved