Opini
Arsitektur Neoliberal adalah Delusi Besar
Tulisan ini merupakan resensi dari buku pertama. Buku yang mengingatkan penulis pada nasihat perempuan tua, seorang veteran tentara
Ringkasan Berita:
- Tulisan ini merupakan resensi dari buku pertama. Buku yang mengingatkan penulis pada nasihat perempuan tua, seorang veteran tentara perdamaian dari Montreal, Kanada.
- Bertahun lalu, ia pernah berkata kepadaku, "Tidak sedikit konflik lahir dari hasrat untuk berbuat baik kepada pihak yang tidak meminta diselamatkan."
- Kalimat itu dahulu hanya terdengar seperti petuah seorang perempuan yang terlalu lama hidup berdampingan dengan perang.
Penulis: Agus Rizal (Ekonom Univ MH Thamrin)
TRIBUNBANYUMAS.COM - Mencandra pikiran dan projek Prabowo. Inilah riset utama Nusantara Centre selama satu tahun (Mei 2025-Mei 2026).
Riset yang disusun dengan membandingkan semua buku karya Prabowo dengan lima buku utama terpilih: (1) The Great Delusion: Liberal Dreams and International Realities, karya John J. Mearsheimer; (2) Konsolidasi Kebangsaan, karya Mochtar Pabottingi; (3) The End of The Free Market, karya Ian Bremmer; (4) Ekonomi Politik Kekuasaan, karya Vedi R Hadiz; (5) Ekonomi Politik Pancasila, karya Yudhie Haryono, dkk. Perbandingan isi buku-buku ini juga menjadi sumber utama lahirnya rancangan undang-undang sistem perekonomian nasional yang sedang bergulir di masyarakat.
Tulisan ini merupakan resensi dari buku pertama. Buku yang mengingatkan penulis pada nasihat perempuan tua, seorang veteran tentara perdamaian dari Montreal, Kanada. Bertahun lalu, ia pernah berkata kepadaku, "Tidak sedikit konflik lahir dari hasrat untuk berbuat baik kepada pihak yang tidak meminta diselamatkan." Kalimat itu dahulu hanya terdengar seperti petuah seorang perempuan yang terlalu lama hidup berdampingan dengan perang. Kini, setelah seminggu lalu ia pergi menuju peristirahatan terakhirnya, kalimat itu menjelma hantu yang berjalan bersamaku. Ia mengikuti dukaku yang mendalam, mengetuk ingatan yang sudah lama berdebu.
Mungkin karena itulah muncul tekad untuk menulis kembali karya keduaku yang pernah kususun di Kanada enam belas tahun silam tentang black civil state. Entah ke mana perginya naskah itu; mungkin hilang bersama koper dan tas tua yang sudah rusak, mungkin tertelan karena perpindahan hidup yang nomaden kala itu. Saat ini yang tersisa hanyalah fragmen ingatan yang samar.
Mengingat kembali gagasan enam belas tahun lalu ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar membuka arsip buku atau hafalan ayat kitab. Ingatan manusia ternyata bukan perpustakaan yang rak-raknya selalu tersusun rapi. Ia lebih menyerupai gudang tua yang gelap, berdebu, dan dipenuhi barang-barang yang tidak berguna.
Di tengah usaha menggali ingatan itu, ponselku berdenting. Sebuah pesan masuk dari komandan yang membawa sebuah buku: The Great Delusion: Liberal Dreams and International Realities karya John J. Mearsheimer tahun 2018. Aku membacanya dengan perasaan ganjil dan penasaran. Buku itu seolah memiliki DNA dan karakter yang serupa dengan naskah lamaku itu seperti bertemu saudara jauh yang tidak pernah kukenal tetapi wajahnya terasa akrab.
Baca juga: CBR Series Melesat Kencang, Astra Honda Racing Team Borong Tiga Podium ARRC Motegi
Bila ditilik lebih jauh, The Great Delusion dapat dibaca sebagai antitesis terhadap optimisme Francis Fukuyama dalam The End of History and the Last Man (1992). Jika Fukuyama percaya demokrasi liberal adalah titik akhir evolusi ideologi manusia, Mearsheimer justru menganggap keyakinan itu sebagai fatamorgana intelektual yang dipuja terlalu lama. Menurutnya, sumber masalah terletak pada kepercayaan berlebihan bahwa liberalisme dapat dijadikan fondasi universal hubungan internasional.
Liberal Hegemony
Amerika Serikat, tulis Mearsheimer, berupaya membentuk dunia menurut citranya sendiri melalui demokratisasi, intervensi kemanusiaan, perubahan rezim, dan perluasan institusi internasional. Proyek tersebut ia sebut sebagai liberal hegemony yaitu ambisi negara liberal untuk mengubah sebanyak mungkin negara lain menjadi demokrasi liberal. Namun, sejak lahir proyek itu sesungguhnya sudah mengandung benih kegagalannya sendiri. Itu seperti seseorang yang memaksa semua orang mengenakan ukuran baju yang sama, lalu robek dan lusuh di mana-mana.
Bagi Mearsheimer, liberalisme selalu berhadapan dengan dua lawan yang jauh lebih perkasa: nasionalisme dan realisme. Nasionalisme membuat setiap bangsa ingin menentukan nasibnya sendiri dan menolak tangan asing yang terlalu gemar mengatur isi rumah orang lain. Sementara realisme mengingatkan bahwa dunia internasional adalah ruang tanpa polisi global. Dalam situasi anarkis semacam itu, negara akan lebih mengutamakan keselamatan, kelangsungan hidup, dan keseimbangan kekuatan dibandingkan mengejar idealisme universal.
Salah satu kekuatan buku ini terletak pada keberanian intelektualnya membongkar optimisme steril yang selama puluhan tahun mendominasi elite kebijakan Barat. Mearsheimer menunjukkan bahwa intervensi militer atas nama demokrasi kerap melahirkan perang tanpa ujung, memperbesar ancaman terorisme, serta merusak institusi liberal di negeri pelakunya sendiri. Liberalisme yang diekspor keluar negeri, ironisnya, justru dapat melahirkan iliberalisme di dalam negeri.
Dalam sudut pandangnya, dogma liberal Barat yang dijual dengan label perdamaian, kestabilan, dan kesejahteraan sering kali berubah menjadi paradigma delusi. Banyak negara berkembang dijebak oleh kemasan kata-kata indah yang menghipnotis akal sehat. Narasi perdamaian berakhir dengan peperangan berkepanjangan. Narasi kestabilan berakhir pada kemiskinan struktural.
Narasi pencerdasan justru melahirkan generasi yang mahir menghafal buku tetapi gagap memahami kenyataan. Neoliberalisme lalu menempatkan dirinya bak agama sekuler baru yaitu dogmanya wajib diimani, sementara siapa pun yang berbeda dianggap sesat, populis, anti-kemajuan, atau ancaman bagi peradaban.
Baca juga: Perluas Kiprah Nasional, INSIP Pemalang Dirikan Sekolah Internasional INEC di Bogor
Dari rahim delusi itulah lahir intelektual-intelektual yang tanpa sadar menjadi penyair intervensi dan indokrinisasi. Mereka merangkai kalimat-kalimat indah tentang penyelamatan, hak asasi, dan kemanusiaan, tetapi terkadang lupa bahwa jalan menuju invasi sering kali dipaving dengan niat baik. Apa yang mula-mula disebut intervensi dapat berubah menjadi okupasi; yang dijanjikan sebagai pembebasan berakhir sebagai penaklukan.
| Usai Bersetubuh, Sekuriti Purwokerto Eksekusi Teman di Dekat Mayat Nenek |
|
|---|
| CBR Series Melesat Kencang, Astra Honda Racing Team Borong Tiga Podium ARRC Motegi |
|
|---|
| Perluas Kiprah Nasional, INSIP Pemalang Dirikan Sekolah Internasional INEC di Bogor |
|
|---|
| Sebut Konsep Bagus tapi Merugikan, 300 Massa HMI Semarang Demo MBG |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260615-agus-rizal.jpg)