Secara struktur, buku ini bukan karya biasa. Ia adalah plot twist intelektual. Di satu sisi, ia tetap ilmiah, membahas kebijakan konkret seperti Program Benteng yang jarang disentuh secara mendalam oleh penulis lain. Di sisi lain, ia menyimpan kejutan dalam epilog yang membalik cara pandang pembaca. Inilah yang membuatnya layak disebut sebagai naskah satire ilmiah.
Keberanian buku ini terletak pada kesediaannya untuk dikritik. Penulis tidak mencari kenyamanan, tetapi justru membuka ruang perdebatan. Ini penting, karena tanpa konflik gagasan, tidak akan ada pergeseran paradigma dalam ekonomi nasional.
Pada akhirnya, tulisan ini bukan sekadar ulasan buku, tetapi seruan terbuka. Seruan agar ekonomi Indonesia kembali pada akarnya, pada Pancasila sebagai dasar, bukan sekadar simbol atau sematan. Seruan agar para ekonom berhenti bersembunyi di balik angka, dan mulai berbicara tentang keadilan. Dan seruan agar negara ini berani menjadi kaya, maju, dan bermartabat dengan logika sendiri, bukan dengan bayangan negara lain.
Perjuangan itu memang perih namun dibalik keperihan itu terdapat dopamin gagasan yang mewujudkan mimpi negara pancasila menjadi nyata.(*)