Selasa, 28 April 2026

Opini

Membangkitkan Kembali Gagasan Ekonomi Pancasila

 Angka-angka dipuja, model-model disempurnakan, tetapi realitas ketimpangan tetap dibiarkan. Ekonomi kehilangan jiw

Editor: Rustam Aji
ISTIMEWA/dok.penulis
: Agus Rizal (Penulis Buku Soemitro Anti Penjajahan)  

Ringkasan Berita:
  • Yes. Mewujudkan negara pancasila yang berekonomi berkeadilan adalah perjuangan gagasan yang membuat perih.
  • Keperihan itu nyata, bukan sekadar metafora. Ia hadir dalam setiap diskursus yang gagal, dalam setiap kebijakan yang melenceng, dan dalam setiap diamnya para pemikir seharusnya berdiri di garis depan.
  • Keperihan tersebut semakin dalam ketika para ekonom di negeri ini lebih memilih menjadikan ekonomi sebagai wilayah matematik dan statistik, bukan sebagai instrumen pemerataan kesejahteraan

Oleh: Agus Rizal (Penulis Buku Soemitro Anti Penjajahan) 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Anang Fahmi, dosen UIN Purwokerto menulis artikel sangat provokatif di media berjudul, "Lah Kok Prabowonomics Melawan Soemitronomics?"

Ini kritik tajam atas buku yang kami tulis dan artikel ini adalah "tanggapan sederhananya." Tentu dengan harap cemas terjadinya ruang saling belajar dan berdialog, bukan saling merasa benar dan paling pintar.

Yes. Mewujudkan negara pancasila yang berekonomi berkeadilan adalah perjuangan gagasan yang membuat perih.

Keperihan itu nyata, bukan sekadar metafora. Ia hadir dalam setiap diskursus yang gagal, dalam setiap kebijakan yang melenceng, dan dalam setiap diamnya para pemikir yang seharusnya berdiri di garis depan.

Keperihan tersebut semakin dalam ketika para ekonom di negeri ini lebih memilih menjadikan ekonomi sebagai wilayah matematik dan statistik, bukan sebagai instrumen pemerataan kesejahteraan sosial.

 Angka-angka dipuja, model-model disempurnakan, tetapi realitas ketimpangan tetap dibiarkan. Ekonomi kehilangan jiwa, dan negara kehilangan arah.

Di tengah situasi itu, ekonom pancasilais justru terdiam. Mereka membisu di ruang publik, tidak terdengar dalam arus utama kebijakan, dan hanya tampak gagah dalam forum-forum diskusi kecil yang tidak memiliki daya ubah. Keheningan ini bukan netral, tetapi bentuk kekalahan dalam pertarungan gagasan.

Kondisi inilah yang menggelitik penulis untuk melakukan pembalikan arah. Bukan sekadar kritik, tetapi upaya sistematis untuk menggeser dominasi pemikiran ekonomi neoliberal menuju ekonomi Pancasila. Sebuah langkah yang tidak populer, tetapi mendesak, karena arah ekonomi tidak bisa terus dibiarkan tanpa fondasi ideologis.

Baca juga: Lah Kok Prabowonomics Melawan Soemitronomics?

Upaya ini sekaligus menjadi panggilan agar para ekonom pancasilais kembali hadir di ruang publik. Bukan sekadar hadir, tetapi berani menarasikan kebenaran tentang apa itu ekonomi berkeadilan, dan siapa yang selama ini mendominasi narasi ekonomi neoliberal. Pertarungan ini adalah pertarungan wacana, sekaligus pertarungan masa depan.

Dalam konteks itulah buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan hadir. Buku ini bukan sekadar karya akademik, tetapi juga satire yang tajam terhadap arah ekonomi nasional. Ia mencoba mengguncang kesadaran, bukan menenangkan kenyamanan intelektual.

Buku ini secara tegas menempatkan Soemitro Djojohadikusumo sebagai ekonom Pancasila. Namun penempatan ini tidak diambil dari keseluruhan pemikirannya, melainkan dari sisi yang selama ini justru minoritas. Di situlah letak keberaniannya: menggali yang tersembunyi untuk menjawab krisis yang nyata.

Sebagian ekonom menyebut buku ini sebagai retorika. Penilaian itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak utuh. Dalam konteks negara yang bahkan belum berhasil mewujudkan dirinya sebagai negara Pancasila, retorika justru menjadi bagian dari perjuangan. Ia adalah bahasa awal dari perubahan yang belum terwujud.

Baca juga: BREAKING NEWS - Hari Ini Prabowo akan Kunjungi TPST BLE Kalibagor Banyumas, Apa Keistimewaannya?

Soemitro Begawan Ekonomi Pancasila

Penulis bahkan secara sadar menyematkan Soemitro Djojohadikusumo sebagai Sang Begawan Ekonomi Pancasila. Ini bukan glorifikasi tanpa makna, melainkan upaya menghadirkan figur yang dapat menjadi aktor penggerak gagasan. Sebuah simbol yang dibutuhkan agar ekonomi Pancasila tidak lagi menjadi wacana pinggiran dan historis.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Jazirah Arabiah di Mata Rogan

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved