Opini
Lah Kok Prabowonomics Melawan Soemitronomics?
Kita tahu, jenis ilmuwan seperti mereka sudah langka. Lewat studi yang mendalam, merekalah kini harapan "peradaban nusantara" kembali berjaya
Ringkasan Berita:
- Buku karya Yudhie Haryono, Agus Rizal dan Dedi Setiadi (2026) hadir dengan niat mulia: menempatkan kembali Soemitro sebagai arsitek pemikiran ekonomi kebangsaan yang relevan untuk Indonesia hari ini.
- Namun, setelah membaca dengan seksama, saya justru menemukan sebuah paradoks tragis yang nyaris tak tersentuh oleh para penulisnya: buku ini menempatkan pemikir strukturalis yang dalam praktik hidupnya justru menjadi preseden paling berbahaya dari apa yang dikritiknya.
Oleh Anang Fahmi (Dosen UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto)
TRIBUNBANYUMAS.COM - Aku terkesiap, gugup dan berdegup. Di tanganku, calon buku baru berjudul "Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan: Pergolakan Pemikiran Ekonomi Politik Indonesia" tergenggam erat memikat.
Buku karya Yudhie Haryono, Agus Rizal dan Dedi Setiadi (2026) hadir dengan niat mulia: menempatkan kembali Soemitro sebagai arsitek pemikiran ekonomi kebangsaan yang relevan untuk Indonesia hari ini.
Para penulis buku ini adalah ilmuwan ekopol terkemuka yang sedang merealisasikan nusantara studies sebagai arus besar tumbuhnya arus balik nusantara.
Kita tahu, jenis ilmuwan seperti mereka sudah langka. Lewat studi yang mendalam, merekalah kini harapan "peradaban nusantara" kembali berjaya.
Dus, buku ini nanti bukan hanya wajib dibeli dan dipelajari, tapi juga dijadikan pondasi evaluasi perjalanan ekopol kita. Larislah. Aamiin.
Dengan kata pengantar menggelegar dari Ichsanuddin Noorsy—yang menyebut modal asing sebagai "invasi, intervensi, infiltrasi, interferensi, indoktrinasi, intimidasi, dan inflasi"—buku ini menegaskan dirinya sebagai manifesto intelektual anti-neokolonialisme; anti penjajahan; anti keserakahan.
Namun, setelah membaca dengan seksama, saya justru menemukan sebuah paradoks tragis yang nyaris tak tersentuh oleh para penulisnya: buku ini menempatkan pemikir strukturalis yang dalam praktik hidupnya justru menjadi preseden paling berbahaya dari apa yang dikritiknya.
Baca juga: Tidak Ada Kepastian, Warga Sekip Semarang Tinggalkan Pengungsian, Pilih Bertahan di Zona Tanah Gerak
Kekuatan yang Tak Bisa Diabaikan
Harus diakui, Yudhie Haryono dkk berhasil merekonstruksi arsitektur intelektual Soemitro dengan cukup sistematis. Gagasannya tentang capital formation domestik, kritiknya terhadap ketergantungan ekspor bahan mentah, penolakan terhadap mekanisme pasar bebas yang buta nilai—semua itu adalah pemikiran segar di zamannya dan tetap relevan hari ini.
Tesis bahwa Indonesia "belum keluar dari perekonomian kolonial" selama ekspornya masih didominasi bahan mentah adalah pukulan analitis yang tepat. Deindustrialisasi dini yang sudah diingatkan sejak 2008, ICOR mencapai 6,25 persen yang menandakan inefisiensi akut investasi, hingga depresiasi rupiah yang rata-rata 9,38 persen per tahun sejak 1997—semua data ini memperkuat relevansi pemikiran Soemitro sebagai pisau analisis struktural.
Bab-bab tentang peran negara dalam industrialisasi, strategi substitusi impor, dan kedaulatan keuangan negara ditulis dengan referensi akademik yang solid. Kutipan dari Prebisch, Gerschenkron, Evans, hingga Mazzucato memperlihatkan bahwa para penulis serius menempatkan Soemitro dalam percakapan teori pembangunan global. Tentu, ini bukan buku biografi puja-puji biasa.
Retakan Pertama: Pemuja Pahlawan yang Lupa Bertanya
Namun di sinilah kritik terpenting harus diajukan. Buku ini terjebak dalam hagiografi intelektual—membangun monumen pemikiran tanpa berani mengadili kontradiksi hidup sang pemikir.
Soemitro adalah orang yang paling fasih berbicara tentang bahaya ketergantungan pada modal asing dan intervensi AS. Namun dialah juga yang pada 1957–1958, dalam kapasitas sebagai tokoh kunci PRRI/Permesta, aktif mencari dukungan senjata dari Amerika Serikat untuk membiayai pemberontakan bersenjata terhadap pemerintahan Soekarno yang sah. Informasi ini bahkan muncul di kata pengantar Noorsy—disebutkan dengan nada hampir tak peduli, seolah sekadar "catatan kaki sejarah."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260401-buku-soemitro.jpg)