Berita Semarang
Tidak Ada Kepastian, Warga Sekip Semarang Tinggalkan Pengungsian, Pilih Bertahan di Zona Tanah Gerak
Warga yang sebelumnya mengungsi akibat pergerakan tanah kini justru kembali ke rumah masing-masing
Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: Rustam Aji
Ringkasan Berita:
- Suasana pengungsian di lahan kosong dekat Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, tampak berbeda pada Minggu (5/4/2026) sore hingga petang.
- Enam tenda bantuan BNPB berdiri, namun tampak sepi.
- Hal itu karena warga yang sebelumnya mengungsi akibat pergerakan tanah kini justru kembali ke rumah masing-masing, meski kondisi kampung semakin mengkhawatirkan.
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG — Tempat pengungsian di lahan kosong dekat Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, tampak berbeda pada Minggu (5/4/2026) sore hingga petang.
Enam tenda bantuan BNPB berdiri, namun tampak lebih sepi.
Tak lagi terdengar riuh ibu-ibu memasak atau anak-anak bermain seperti beberapa pekan lalu.
Pengungsian itu perlahan ditinggalkan.
Warga yang sebelumnya mengungsi akibat pergerakan tanah kini justru kembali ke rumah masing-masing, meski kondisi kampung semakin mengkhawatirkan.
Dari informasi yang dihimpun, warga hanya diberi izin menempati lokasi pengungsian hingga 16 April 2026.
Artinya, tinggal hitungan hari, sementara itu, kepastian relokasi yang sempat dijanjikan dianggap belum ada.
Meskipun warga tersebut tidak memiliki sertifikat hak kepemilikan atas tanah mereka, namun mereka masih mencari cara untuk bisa tinggal dan beraktivitas normal.
Di tengah ketidakpastian itu, warga dihadapkan untuk memilih kembali ke rumah di zona tanah gerak atau bertahan dengan mendirikan tenda darurat di pinggir jalan utama yang dianggap lebih aman.
Baca juga: Fulltime PSIS Vs Barito Putera: Mahesa Jenar Gagal Balas Dendam, Malah Kalah 0-1
Jika dibandingkan saat kunjungan pejabat pada Februari lalu, kondisi dampak tanah gerak Kampung Sekip tampak lebih parah.
Dari pantauan terbaru, amblesan tanah semakin meluas.
Retakan di jalan utama yang sebelumnya hanya beberapa meter kini melebar hingga sekitar 10 meter.
Jalan yang dulu sejajar dengan halaman rumah warga kini turun hingga sekitar satu meter dan tampak miring.
Santi (34), satu di antara warga, menceritakan yang dialaminya.
Rumahnya masih berdiri, namun di seberangnya, tiga bangunan sudah roboh. Jalan di depan rumahnya pun telah berubah menjadi tanah dan bebatuan akibat ambles.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/202604045-sekip-tanah-gerak.jpg)