Opini
Melting Pot Blok M dan Aura Vibes Positif
Saya sering datang ke toko buku Gramedia hanya untuk sekedar mengupdate judul buku yang baru terbit.
Namun, kurang atau abai memikirkan bagaimana membuat kebijakan yang positif dan produktif untuk mempertahankan dan merawat bangunan pasar lama.
Baca juga: Nasib 1.106 PPPK Paruh Waktu Aman, Pemkab Kendal Siapkan Solusi Aturan UU HKPD
Juga mengembangkan tata ruang kawasan pasar, melatih dan mengembangkan SDM pedagang, membangun sarana prasarana moda transportasi umum yang terintegrasi, serta akses permodalan yang mudah dan murah.
Revitalisasi pasar di kawasan Blok M dapat dijadikan contoh, terutama bagi Kepala Daerah yang pada saat kampanye mendengungkan narasi dan janji kampanye pro ekonomi rakyat, pro pedagang pasar dan pelaku UMKM.
Terdapat sesanti yang jarang dipahami penguasa lokal dalam membangun pasar rakyat. Yaitu: “Pemerintah Daerah dapat membangun pasar bahkan bisa memaksa para pedagang berjualan di bangunan pasar yang dibangunnya.
Tetapi Pemda tidak akan pernah bisa mengatur masyarakat dan konsumen untuk datang berbelanja di pasar tradisional dan modern yang dibangunnya”.
Ada beberapa faktor yang membentuk ekosistem pasar tradisional dan modern, yaitu historis dan peradaban, ekonomi dan sosial budaya yang melingkupi (local wisdom), keyakinan dan “pulung”, interaksi sosial dan kemajuan ilmu pengetahuan teknologi.
Sepasang pedagang pasar mampu melahirkan banyak anak menjadi anggota legislatif dan eksekutif, direktur dan gubernur, polisi dan akademisi, birokrat dan teknokrat, pejabat dan ustad. Tetapi seorang atau sepasang kalangan profesional tersebut belum tentu mampu melahirkan seorang pedagang pasar.
Pada era digital sekarang, konsep Gramedia Jalma –sebagai bagian dari ekosistem ekonomi pasar rakyat– patut ditiru dan dikembangkan para pedagang buku, kitab dan bahan bacaan.
Bisa dibangun melalui kolaborasi paguyuban atau koperasi pedagang sejenis, apabila merasa tidak mampu membangun sendirian. Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota dapat memfasilitasi sarana prasarana yang dibutuhkan disertai kebijakan yang memihak dan berdampak.
Baca juga: Miris! Curi Motor di Pos Ronda Pringapus, Pria Asal Demak Libatkan Anak Kandung yang Masih Pelajar
Konsep Melting-pot sebagaimana Gramedia Jalma terbukti sangat efektif menggaet konsumen dari kalangan wisatawan nusantara, pegiat literasi, generasi milenial, Gen-Z dan Alpha.
Sebuah generasi hasil bonus demografi yang harus dirawat dan dijaga sebagai entitas kunci kemajuan peradaban Indonesia pada masa mendatang.
Di tengah kekhawatiran banyak orang tua dalam menjaga anak-anak dan remaja agar tidak terjerat judi online, pinjol, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas tanpa batas serta berbuat kriminal.
Tidak terasa 2,5 jam saya singgah di melting pot ini. Tidak lupa saya membeli sebuah buku terjemahan “On The Jewish Question” karya Karl Marx, yang baru terbit Oktober 2025 lalu. Buat bahan bacaan di perjalanan darat sepulang dari Jakarta.
Bagi pegiat literasi, membaca itu input sedangkan out-put nya bisa berupa tulisan, artikel maupun konten kreatif.
Meskipun teknologi AI (Akal Imitasi) telah dan sedang berkembang pesat tetapi kami meyakini secara pasti bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan AM (Akal Manusia) buatan Tuhan.
Menurut suwargi BJ. Habibie (1995), andaikan otak manusia bisa digantikan chip termutakhir maka dibutuhkan chip selebar 2 kali luas bumi. Itupun tidak akan pernah mampu menggantikan hidayah cipta, karsa dan rasa kemanusiaan kita.
Wallahu’alam
Pagersari, Weleri-Kendal, 2 April 2026
| Longsor Bukit Tewaskan Ibu di Sangkanayu Purbalingga, Hancurkan 3 Dapur |
|
|---|
| Cuaca Ekstrem Terjang Semarang: Empat Rumah Rusak, Longsor di Ngaliyan Timpa Hunian Warga |
|
|---|
| Hujan Deras Picu Longsor di Cimanggu Cilacap: Jalan Desa Sempat Lumpuh, Tiga Rumah Terancam |
|
|---|
| Nasib 1.106 PPPK Paruh Waktu Aman, Pemkab Kendal Siapkan Solusi Aturan UU HKPD |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260412-blok-m.jpg)