Senin, 8 Juni 2026

Opini

Melting Pot Blok M dan Aura Vibes Positif

Saya sering datang ke toko buku Gramedia hanya untuk sekedar mengupdate judul buku yang baru terbit.

Tayang:
Editor: Rustam Aji
ISTIMEWA/dok. pribadi penulis
VIBES POSITIF - Sejumlah orang terlihat asik berdiskusi di salah satu sudut ruangan. Mereka terlihat sersan, serius tapi santai. Nampak dari gestur wajah mereka yang sesekali diselingi tertawa renyah. Satu diantaranya, seorang pelajar putri sedang memainkan keyboard notebook sambil menyahut obrolan ketiga rekannya. 

Tergantung situasi dan kondisi, jangkauan dan pantauan, kebiasaan dan perilaku sosial lain yang lebih bersifat personal.

Bagi seorang pengutil atau pengidap kleptomania, sebuah lokasi terang benderang dengan puluhan CCTV akan memancarkan vibes negatif baginya.

Namun sebaliknya, memancarkan vibes positif bagi mereka yang membutuhkan keamanan, kenyamanan dan ketidak-kuatiran beraktivitas di suatu tempat.

Vibes hadir beriringan dengan budaya dan peradaban suatu komunitas, kelompok dan organisasi, hasil interaksi sosial manusia yang berada di dalamnya.

Kami pertama kali mendatangi Gramedia Jalma Blok M Jakarta, Rabu 1 April 2026. Lokasinya berada di pinggir “gang viral” di depan Blok M Square. Kami menangkap kesan kuat tempat ini sebagai melting pot.

Baca juga: Hujan Deras Picu Longsor di Cimanggu Cilacap: Jalan Desa Sempat Lumpuh, Tiga Rumah Terancam

Dimana toko buku Gramedia yang sempat redup, sengaja dikonsep ulang dan terpadu sebagai reading pod untuk berbagai kelompok umur (anak-anak, remaja, dewasa), co-working space, sarana prasarana yang estetik kekinian, dilengkapi kedai kopi, serta memiliki banyak sudut ruang yang bisa dijadikan tempat membuat berbagai konten kreatif.

Gramedia Jalma menjelma menjadi melting pot bagi para pecinta buku, pegiat literasi, pelajar dan mahasiswa, pengarang dan pencipta, anak-anak dan orang tua, ruang cipta ide dan gagasan, serta membangun jejaring komunitas kreatif di Jakarta. 

Sebuah “ruang asimetris” manakala dibandingkan puluhan toko dan lapak buku yang menempati salah satu lantai basement Blok M Square. Mengingatkan saya lagu “JJS Lintas Melawai” nya Harry Moekti, dan menjadi anggota komunitas Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) ketika kuliah di IESP FE Undip Semarang (1987-1996).

Saya sering datang ke toko buku Gramedia hanya untuk sekedar mengupdate judul buku yang baru terbit. Jika bermaksud membeli buku, kami memilih datang ke Pasar Johar Semarang atau Shopping Center Yogyakarta. Sebabnya, ada diskon 20-30 persen dari harga jual buku (tergantung penerbit), termasuk buku terbitan Gramedia Pustaka Utama.

Dahulu, Gedung Sarinah hadir sebagai “Pasar Modern” pertama di Indonesia yang digagas Presiden Soekarno dan diresmikan pada 15 Agustus 1966.

Menyusul kemudian Aldiron Plaza (1978) sebagai pengembangan bangunan “pasar tradisional” lama Pasar Melawai. Penataan resmi kawasan Blok M dilakukan pada masa Gubernur Ali Sadikin.

Menghasilkan bangunan Blok M Square tahun 2008 (perubahan nama Aldiron Plaza, 1978) dan Plaza Blok M (1990). 

Sebagai pengurus APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia) Jawa Tengah, saya menilai moda transportasi umum terpadu (MRT, KRL, Trans Jakarta), beserta stasiun dan sub terminal di kawasan ini sangatlah menarik.

Membuat masyarakat menjadi mudah dan murah membayar ongkos transportasi. Sebuah kebijakan yang seringkali dilalaikan Pemerintah Daerah dalam mengembangkan pasar rakyat (dh. pasar tradisional). 

Berapa banyak pasar rakyat terbakar (atau “dibakar”), lalu dibongkar dan dibangun proyek baru berupa pasar modern. Setidaknya terlihat modern dari model dan bentuk luar bangunan fisiknya.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved