Minggu, 3 Mei 2026

Opini

Industri Jamu Indonesia: Besar Secara Budaya, Kecil secara Ekonomi

Di balik kuatnya legitimasi kultural, terdapat satu kenyataan yang sulit diabaikan: industri jamu Indonesia besar potensi tetapi kecil secara ekonomi.

Tayang:
Editor: Rustam Aji
ISTIMEWA/dok.penulis
DATA JAMU - Data BPS yang diolah Nusantara Centre 

Ringkasan Berita:
  • Nusantara Centre dengan dukungan PPJAI (Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia) melakukan riset untuk mendapat data riil soal peran strategis industri jamu dalam perekonomian nasional.
  • Namun, di balik kuatnya legitimasi kultural tersebut, terdapat satu kenyataan yang sulit diabaikan: industri jamu Indonesia besar potensi tetapi kecil secara ekonomi.
  • Dalam struktur perekonomian nasional, posisi industri jamu tergolong marginal. 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Nusantara Centre dengan dukungan PPJAI (Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia) melakukan riset untuk mendapat data riil soal peran strategis industri jamu dalam perekonomian nasional.

Riset ini dilakukan selama tiga bulan (Oktober-Desember 2025) yang menghasilkan temuan-temuan mencengangkan dan sangat berguna bagi kita dalam memahami dan mengembangkan industri dan peradaban jamu nasional.

Data dari temuan awal ini juga akan menjadi modal pembuatan road map dan big data dalam usaha membangun lembaga yang berkonsentrasi mengurus jamu (Badan Nasional Rempah dan Herbal Indonesia/Banrehi). 

Kita memahami, industri jamu kerap diposisikan sebagai warisan budaya sekaligus identitas bangsa.

Ia hadir lintas generasi dan lintas kelas sosial, dari desa hingga kota, dari gendong tradisional hingga etalase digital.

Namun, di balik kuatnya legitimasi kultural tersebut, terdapat satu kenyataan yang sulit diabaikan: industri jamu Indonesia besar potensi tetapi kecil secara ekonomi.

Dalam struktur perekonomian nasional, posisi industri jamu tergolong marginal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2019–2023, industri jamu tercatat sebagai bagian dari subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional.

Secara agregat, subsektor ini menyumbang sekitar 2–3 persen terhadap PDB industri pengolahan. Namun, jika dipilah lebih rinci, kontribusi jamu murni terhadap PDB industri obat tradisional masih berada di bawah 0,3 persen pada 2022–2023.

Baca juga: Mendesain Pasar Berkeadilan sebagai Pusat Interaksi Ekonomi

Angka ini menegaskan adanya jurang besar antara kekuatan budaya dan realisasi ekonomi. Jamu dikenal luas, dikonsumsi rutin, dan diterima secara sosial, tetapi belum berhail bertransformasi menjadi sektor bernilai tambah tinggi.

Tentu ini temuan yang wajib ditindaklanjuti jika peradaban jamu menjadi cita-cita nasional.

Pasar Ada, tetapi Kurang Bertumbuh

Hasil riset lapangan yang dilakukan pada tiga bulan tahun 2025 menunjukkan bahwa masalah utama industri jamu bukan pada sisi permintaan.

Sebanyak 64 persen konsumen masih memilih jamu tradisional lokal, terutama dalam bentuk cair dan serbuk. Loyalitas budaya ini seharusnya menjadi modal ekonomi yang kuat.

Namun, kondisi pasar justru stagnan. Sebanyak 46 persen pelaku usaha menyatakan permintaan relatif tetap, dan hanya 31 persen yang mengalami peningkatan penjualan.

Pola ini menunjukkan bahwa industri jamu telah memasuki fase stable demand tanpa innovation-driven growth. Produk tidak berubah signifikan, diferensiasi terbatas, dan nilai tambah berhenti di level rendah.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved