Opini
Industri Jamu Indonesia: Besar Secara Budaya, Kecil secara Ekonomi
Di balik kuatnya legitimasi kultural, terdapat satu kenyataan yang sulit diabaikan: industri jamu Indonesia besar potensi tetapi kecil secara ekonomi.
Potensi Inovasi Besar, tetapi Risiko Terlalu Tinggi
Riset ini juga menangkap potensi inovasi produk, termasuk diversifikasi bahan dan formulasi baru. Namun, adopsinya rendah.
Sebagai contoh, penggunaan bahan tambahan seperti susu kambing dinilai mungkin oleh 54 persen pelaku, tetapi hanya 5 persen yang melihatnya sebagai peluang pasar nyata.
Hambatan utama adalah ketidakpastian pasokan bahan baku dan permintaan. Dalam kondisi tanpa dukungan kebijakan, inovasi justru meningkatkan risiko usaha. Ini menjelaskan mengapa industri jamu cenderung defensif dan enggan bereksperimen.
Sekali lagi, kita disadarkan bahwa “ada banyak potensi” tetapi kita gagal memanfaatkan. Potensi untuk berinovasi sangat besar karena temuan-temuan jamu baru, tetapi beresiko dalam pasar yang tidak menerima karena kampanyenya belum besar sehingga komunitas belum memahami manfaat dari temuan-temuan baru tersebut.
Negara perlu berperan dalam gerak kampanye terstruktur, sistematis dan massif agar jamu baru akibat inovasinya bisa diterima pasar secara signifikan. Di sini dukungan pendanaan, penciptaan kurikulum dan pentradisiannya menjadi kunci yang tidak terelakan.
Jamu dan Kedaulatan Kesehatan Nasional
Di luar persoalan ekonomi, jamu memiliki posisi strategis dalam konteks kedaulatan kesehatan nasional. Berbasis biodiversitas lokal dan pengetahuan tradisional, jamu mendukung pendekatan promotif dan preventif yang dalam jangka panjang lebih efisien secara fiskal.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Traditional Medicine Strategy 2014–2023 menegaskan bahwa integrasi pengobatan tradisional yang terstandar dapat menekan beban biaya kesehatan nasional.
Baca juga: Sempat Dikira Tas Plastik,Pesepeda Pagi Temukan Jasad Mengapung di Embung Pabelan Kabupaten Semarang
Dengan kata lain, penguatan industri jamu bukan hanya agenda ekonomi, tetapi juga strategi ketahanan sistem kesehatan. Memahami hal ini, kita harus terus membuat jamu dan industrinya serta hilirisasinya wajib disegerakan secara luas, fokus dan serius.
Sebab, kedaulan kesehatan adalah mandat konstitusi (…melindungi segenap tumpah darah Indonesia, seperti dalam pembukaan konstitusi).
Jalan Keluar: Kebijakan Berbasis Misi
Kesimpulan riset ini tegas: industri jamu tidak kekurangan pasar, tetapi kekurangan kebijakan yang tepat sasaran. Tanpa intervensi negara yang strategis, jamu akan terus hidup sebagai simbol budaya, tetapi gagal menjadi kekuatan ekonomi.
Diperlukan pemisahan regulasi jamu dari obat kimia, kebijakan industri berbasis misi, integrasi riset dan standardisasi, serta dukungan pembiayaan jangka panjang.
Jika langkah ini diambil, industri jamu berpotensi menjadi pilar ekonomi kesehatan berbasis lokal yang memperkuat PDB, memperluas basis pajak, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat kedaulatan kesehatan nasional.
Saat bersamaan, kita memerlukan dukungan kongkrit pemerintah yang selaras dengan program nasional seperti:
(1) Menaikkan serapan susu kambing pada program MBG (Makan Bergizi Gratis);
(2) Memasukkan produk gizi alternatif dan imun (madu ikan zidat dan temu lawak) untuk anak (terutama untuk program stunting dan pos yandu);
(3)Mengintegrasikan produk karbohidrat alternatif untuk lansia (pati irut dan ubi-ubian);
(4)Menjadikan semua ekosistem jamu sebagai program nasional; (5)Program bebas pajak untuk pengusaha jamu pemula/UMKM.
Metodologi Riset Jamu
Sebagai informasi, riset ini menggunakan pendekatan metode mix method yang menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai kondisi industri jamu nasional, serta sumbangannya dalam perekonomian warga-negara.
Pendekatan kuantitatif dilakukan melalui survei terhadap produsen dan distributor jamu di berbagai wilayah, dengan pengolahan data menggunakan statistik deskriptif untuk mengidentifikasi pola produksi, permintaan, tenaga kerja, dan kontribusi fiskal.
Baca juga: PPJAI Siap Go Global: Jamu Indonesia Segera Tembus Amazon Amerika Serikat
Sementara itu, pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dan analisis pada pelaku jamu. Kombinasi kedua pendekatan ini memungkinkan riset menangkap dinamika struktural industri jamu secara lebih utuh.
Riset industri jamu ini disusun dan dilaksanakan oleh Nusantara Centre bekerja sama dengan Perkumpulan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (PPJAI) sebagai bagian dari upaya memperkuat basis data dan analisis kebijakan sektor jamu nasional.
Penelitian ini melibatkan tim riset yang terdiri atas Yudhie Haryono (koordinator), Agus Rizal, Heri Susanto, Firdaus Syamsu, Yaya Sunaryo, Dedi Setiadi, Asy’ari Muchtar, dan Riskal Arief dengan pendekatan empiris dan analitis untuk memotret kondisi riil industri jamu dari sisi ekonomi, tenaga kerja, dan tantangan struktural yang dihadapi, sekaligus menjadi rujukan bagi perumusan kebijakan dan strategi pengembangan jamu yang lebih terarah dan berkelanjutan. (*)
Penulis: Agus Rizal (Nusantara Centre) dan Heri Susanto (PPJAI).
| Zaenuri Mematung Lihat Puting Beliung Datang: Puluhan Rumah di Semarang Rusak, Tiang Listrik Ambruk |
|
|---|
| Jadwal Leg Pertama Babak 8 Besar Liga 4 Jateng Hari Ini, Persibas Banyumas Jamu Persak Kebumen |
|
|---|
| Sempat Dikira Tas Plastik,Pesepeda Pagi Temukan Jasad Mengapung di Embung Pabelan Kabupaten Semarang |
|
|---|
| Ojol Seluruh Indonesia Siap-siap! Pertamina Bagi 100 Motor Gratis Lewat Program BOOM |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/grafis-riset.jpg)