Opini
Melawan atau Hanyut Dalam Tekanan
Dalam refleksi, objek tokoh buku ini, Soemitro, mengajak kita memahami bahwa perekonomian kolonial adalah perbudakan.
Ringkasan Berita:
- Setahun meriset pemikiran ekopol Soemitro Djojohadikoesoemo, Nusantara Centre menemukan banyak temuan menarik.
- Dalam refleksi, objek tokoh buku ini, Soemitro, mengajak kita memahami bahwa perekonomian kolonial adalah perbudakan
- Sektor ini bukan saja mengungkit perekonomian nasional, juga membuka lapangan kerja. Produknya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Ichsanuddin Noorsy, Ekonom Strukturalis
TRIBUNBANYUMAS.COM - Kami meriset dan menulis. Sebab, itulah nadi peradaban yang sesungguhnya. Setahun meriset pemikiran ekopol Soemitro Djojohadikoesoemo, Nusantara Centre menemukan banyak temuan menarik.
Kebetulan, subjek riset kali ini adalah ayah kandung Presiden Prabowo Subianto sehingga lebih menarik karena nanti akan ketahuan jalur DNA pemikiran keduanya.
Setelah melewati banyak perdebatan, kami minta ekonom Ichsanuddin Noorsy membuat pengantar penajaman dan penalaran. Berikut tulisan pertama dari dua artikel yang menyertai penerbitan buku kami. Sambil menunggu proses penerbitan di percetakan, pengantar ini kami bagi utuh untuk pembaca.
Membaca buku hasil riset yang sedang Anda buka ini menarik. Uraiannya menyajikan pola pikir refleksi, posisi, dan proyeksi.
Dalam refleksi, objek tokoh buku ini, Soemitro, mengajak kita memahami bahwa perekonomian kolonial adalah perbudakan. Tentu saja sebagai lanjutan dari penindasan.
Karenanya pada kerangka posisi, saat bicara anggaran dan bangun sistem perindustrian, pendiri Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu mengusulkan model perencanaan pembangunan berjangka waktu melampaui periode elektoral.
Industri dan industrialisasi (hilirisasi), tegasnya, harus merupakan cara mengatasi perekonomian kolonial sekaligus mengarah pada terbentuknya harkat bangsa.
Baca juga: Kesaksian Ahmad hukam Mujtaba di Teheran: Rakyat Iran Tak Terlihat Panik oleh Serangan AS-Israel
Sektor ini bukan saja mengungkit perekonomian nasional, juga membuka lapangan kerja. Produknya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Maka anggaran pemerintahan dan sistem perencanaan pembangunan bertujuan membentuk capital formation domestic. Ini wujud keberpihakan struktural.
Hal tersebut tidak mudah dilakukan disebabkan negara berkembang hampir selalu berhadapan dengan kekurangan pembiayaan. Tapi alasan ini pun yang membuka peluang serbuan kolonialisasi dalam bentuk baru.
Dalam tesis saya, kehadiran modal asing dan pinjaman luar negeri di negara berkembang merupakan wujud invasi, intervensi, infiltrasi, interferensi, indoktrinasi, intimidasi, dan inflasi. Muaranya adalah instability dan impoverishment.
Tesis ini dapat dirujuk pada buku Economic Hitman-nya John Perkins, Super Imperialism-nya Michael Hudson, dan berbagai buku lainnya yang mengkritik secara tajam westernisasi pembangunan suatu negara.
Maka saat Soemitro berpikir tentang industri sebagai pengungkit perekonomian negara, tokoh yang ikut memberontak pada PRRI/Permesta 1957–1958 menunjukkan model berpikir strukturalis.
Dalam ungkapan lain, capital formation domestic adalah pembentukan kapasitas produksi domestik, penguatan kelembagaan negara, mengatasi birokrasi berbelit dan lamban, serta penciptaan keseimbangan sosial.
Dalam proyeksi Soemitro, masa depan ekonomi negara terjadi saat negara berinvestasi pada pendidikan dan teknologi. Karena itu ketimpangan keuangan pusat dan daerah adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi.
| Tak Sekadar Riding, Hijabers Serenity Ride Ajak Pengguna Scoopy Yogyakarta Aksi Sosial dan Workshop |
|
|---|
| Mudik Motor 2026: Astra Motor Yogyakarta Siagakan Bale Santai 24 Jam di Jalur Utama |
|
|---|
| IGD RSUD Hj. Anna Lasmanah Buka 24 Jam Selama Lebaran, Layanan Cuci Darah Libur Hari H |
|
|---|
| Pedagang di Pantai Pelayaran Jepara Asyik Live Tik Tok, ta Sadar Warung Terbakar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/ekonom-Ichsanuddin-Noorsy.jpg)