Gedung Candiyasan Baru 45 Persen, Sekolah Rakyat Wonosobo Cari Siswa
Dinsos PMD Wonosobo menjaring siswa Sekolah Rakyat 2026/2027 untuk tekan kemiskinan, prioritaskan warga kurang mampu, Senin (25/5/2026).
Penulis: Imah Masitoh | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ringkasan Berita:
- Pemkab Wonosobo membuka penjaringan siswa baru Sekolah Rakyat 2026/2027 untuk memutus rantai kemiskinan akibat rendahnya tingkat pendidikan.
- Program diutamakan bagi warga miskin ekstrem Desil 1 dan 2 data DTSEN, serta anak dengan kondisi khusus seperti yatim atau terdampak bencana.
- Pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat di Candiyasan, Kertek kini capai 45 persen dan ditargetkan siap pakai untuk tiga rombel SD-SMA.
TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo bersiap menyelenggarakan proses penjaringan bagi para calon peserta didik Sekolah Rakyat untuk tahun ajaran baru 2026/2027.
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos PMD) Kabupaten Wonosobo, Harti, memaparkan bahwa program inovatif tersebut menjadi satu di antara instrumen strategis pemerintah daerah guna menekan angka kemiskinan yang selama ini dinilai masih dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pendidikan masyarakat setempat.
“Di Wonosobo kemiskinan itu banyak disebabkan faktor pendidikan,” kata Harti kala hadir menjadi narasumber di Kantor Diskominfo Wonosobo, Senin (25/5/2026).
Baca juga: Target 370 Siswa, Sekolah Rakyat Wlahar Brebes Baru Jaring 165 Anak
Sebagai informasi, program rintisan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 35 Wonosobo sendiri sebenarnya sudah mulai berjalan sejak bulan Agustus 2025 lalu dengan memanfaatkan fasilitas di Balai Latihan Kerja (BLK) Wonosobo sebagai gedung operasional sementara. Melalui program rintisan tersebut, tercatat sebanyak 100 siswa telah aktif mengikuti proses pendidikan berbasis asrama ini.
Harti menerangkan, akses masuk Sekolah Rakyat ini diprioritaskan utamanya bagi masyarakat yang masuk dalam kategori desil 1 dan desil 2 dalam sistem Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Desil 1 dan 2 itu masyarakat yang benar-benar tidak mampu,” ujarnya menguraikan target utama program.
Kendati demikian, pihak pemerintah daerah dipastikan tetap membuka peluang lebar bagi lapisan masyarakat yang belum terdata dalam kategori desil tersebut, asalkan terbukti memiliki kondisi khusus yang mendesak.
"Misalnya keluarga yang mengalami penurunan ekonomi, kehilangan orang tua, terdampak bencana, atau terkendala administrasi kependudukan sehingga belum masuk dalam data DTSEN masih ada kesempatan mengajukan. Nantinya, tim akan melakukan verifikasi terhadap kondisi calon siswa," jelasnya mengenai kebijakan fleksibilitas tersebut.
Menurut penjelasan Harti, proses penapisan atau penjaringan ini dilakukan melalui skema asesmen mendalam serta verifikasi lapangan secara langsung dengan melibatkan berbagai unsur terkait, mulai dari tenaga pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) hingga jajaran pemerintah desa.
Sepanjang proses seleksi berlangsung, tim gabungan bakal mencocokkan kesesuaian data pribadi, potret kondisi rumah tinggal, tingkat penghasilan riil orang tua, hingga memastikan calon siswa bersangkutan benar-benar dikategorikan membutuhkan bantuan pendidikan ekstrasolid. Harti mengimbuhkan bahwa seluruh proses penjaringan ini sengaja dilakukan secara sangat teliti agar program unggulan daerah ini bisa tepat sasaran serta benar-benar mendatangkan manfaat nyata bagi warga yang memerlukan.
“Kita sedang melakukan penjangkauan yang teliti biar tepat sasaran, tepat manfaat,” ujarnya menerangkan prinsip kerja dinas.
Berdasarkan kompilasi data sementara, jumlah calon peserta didik terpantau paling banyak didominasi dari jenjang pendidikan SMA. Menurut Harti, potret kondisi objektif tersebut berjalan sejalan dengan tingginya grafik angka anak putus sekolah di tingkat jenjang SMA di wilayah Wonosobo.
“Angka anak tidak sekolah, tidak melanjutkan sekolah itu banyakan SMA,” ujarnya membeberkan realita lapangan.
Dalam rancangan skema awal, masing-masing tingkatan jenjang pendidikan direncanakan bakal membuka sebanyak tiga rombongan belajar (rombel), yang menjangkau mulai dari jenjang SD, SMP, hingga tingkat SMA.
Sementara itu, progres pengerjaan fisik pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat yang berlokasi di Candiyasan, Kecamatan Kertek dilaporkan telah menyentuh angka sekitar 45 persen. Saat ini, jajaran pemerintah daerah juga tengah sibuk menyiapkan bentangan jaringan instalasi listrik serta berbagai pemenuhan kebutuhan prasarana penunjang lainnya guna menyokong operasional sekolah pada tahun ajaran baru mendatang.
| Jelang Iduladha, Sapi Jenis Limosin Banyak Diburu di Pasar Hewan Wonolelo Wonosobo |
|
|---|
| Sapi Bakalan Naik 9 Juta, Pasar Wonolelo Banjir Truk Jelang Iduladha |
|
|---|
| Cegah Penyakit dan Stunting, Dinkes Wonosobo Perketat Standar Sanitasi di Pondok Pesantren |
|
|---|
| Dinkes Wonosobo Imbau Warga Lakukan CKG sebelum Iduladha: Cegah Masalah Kesehatan Akibat Kolesterol |
|
|---|
| Sensasi Menginap di Tenda Ala Suku Eskimo di Damar Valley Glamping Wonosobo, Harga Mulai Rp400 Ribu |
|
|---|
