Berita Wonosobo
Cegah Penyakit dan Stunting, Dinkes Wonosobo Perketat Standar Sanitasi di Pondok Pesantren
Dinkes Wonosobo memperketat standar sanitasi pondok pesantren untuk cegah penyakit menular dan mendukung percepatan penurunan stunting 2026.
Penulis: Imah Masitoh | Editor: Rustam Aji
Ringkasan Berita:
- Dinkes Kabupaten Wonosobo menaruh perhatian serius terhadap kondisi sanitasi di lingkungan pondok pesantren sebagai bagian dari strategi pencegahan penyakit dan percepatan penurunan stunting.
- Hal ini guna mencegah penularan penyakit berbasis lingkungan seperti penyakit kulit dan diare
- Selain memastikan standar sanitasi, Dinkes Wonosobo juga berencana membentuk kader santri husada untuk mendorong penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara mandiri di lingkungan pesantren.
TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO — Dinas Kesehatan (Dinkes Wonosobo) memperketat pengawasan dan standarisasi sanitasi pondok pesantren di seluruh wilayah Kabupaten Wonosobo.
Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari komitmen layanan promotif-preventif dalam mempercepat penurunan stunting sekaligus memutus rantai penularan penyakit berbasis lingkungan di kalangan para santri.
Saat meninjau langsung sarana air bersih, fasilitas mandi cuci kakus (MCK), hingga pengelolaan limbah domestik di Pondok Pesantren Rohmatul Ummat, Wonobungkah, Jumat (22/5/2026), Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo, Jaelan, menegaskan pentingnya menjaga status kesehatan lingkungan lembaga pendidikan keagamaan tersebut secara holistik.
"Pesantren adalah tempat mencetak generasi unggul, sehingga status kesehatannya harus dijaga secara holistik. Kami dari Dinas Kesehatan memastikan bahwa akses air bersih, pengelolaan limbah domestik, dan fasilitas MCK di sini memenuhi standar kesehatan lingkungan (kesling). Hal ini guna mencegah penularan penyakit berbasis lingkungan seperti penyakit kulit dan diare," ujar Jaelan.
Bentuk Kader Santri Husada dan Kemandirian PHBS
Sebagai langkah keberlanjutan, Dinkes Wonosobo tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur fisik, tetapi juga berencana membentuk kader santri husada.
Kader ini nantinya akan menjadi penggerak utama dalam mendorong penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara mandiri di lingkungan internal pesantren.
Baca juga: Skema Ponzi Koperasi BLN Senilai Rp4,6 triliun di Jateng Menyisakan Kisah Tragis:Dana Pensiun Lenyap
Integrasi antara ketersediaan sanitasi pondok pesantren yang layak dengan edukasi PHBS dinilai menjadi pilar krusial. Pasalnya, kondisi sanitasi yang buruk berkorelasi langsung terhadap infeksi penyakit berulang pada anak dan remaja, yang menjadi salah satu faktor pemicu tidak langsung terjadinya masalah gizi kronis.
Intervensi Sejak Remaja Demi Target Penurunan Stunting 2026
Di sisi lain, upaya akselerasi penurunan stunting tetap diposisikan sebagai agenda prioritas utama Pemerintah Kabupaten Wonosobo sepanjang tahun 2026. Jaelan menjelaskan bahwa penyelesaian masalah stunting tidak dapat diselesaikan secara sektoral dari hilir atau hanya berfokus pada anak yang sudah lahir saja.
"Kita intervensi sejak masa remaja putri, calon pengantin, hingga pemenuhan gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dengan integrasi PHBS di rumah tangga dan sanitasi yang baik seperti di pesantren ini, kita memotong rantai penyebab stunting dari akarnya," urai Jaelan.
Guna memastikan target tersebut tercapai, pihak dinas terus memperkuat pemantauan tumbuh kembang anak berbasis data posyandu agar intervensi gizi berjalan lebih tepat sasaran.
Program pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal serta edukasi kepada ibu hamil juga semakin digencarkan di berbagai wilayah mikro.
Baca juga: Jaringan Siber Lintas Negara Bermodus Pig Butchering Kuras Rp 41,1 Miliar dari Ribuan Korban Global
Menutup kunjungannya, Kepala Dinkes Wonosobo turut menyampaikan apresiasi yang tinggi atas dukungan para pengurus pondok pesantren serta tokoh masyarakat.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu mewujudkan pelayanan kesehatan inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan demi menyukseskan program penurunan stunting yang merata di Wonosobo. (ima)
| Skema Ponzi Koperasi BLN Senilai Rp4,6 triliun di Jateng Menyisakan Kisah Tragis:Dana Pensiun Lenyap |
|
|---|
| Jaringan Siber Lintas Negara Bermodus Pig Butchering Kuras Rp 41,1 Miliar dari Ribuan Korban Global |
|
|---|
| 50 Ekor Sapi Impor dari Australia Akan Berlabuh di Cilacap |
|
|---|
| Kenangan Diogo Brito Pernah Bawa Persijap Kalahkan Persib, Siap Ulang Kemenangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260523-sanitasi-oke.jpg)