Berita Jateng
Sejarah KH Sholeh Darat Semarang dan Hubungannya dengan Kartini
Ulama kelahiran Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara ini dikenal sebagai guru para ulama besar
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: khoirul muzaki
Langkah ini dianggap revolusioner. Dengan bahasa yang dipahami masyarakat awam, ajaran agama menjadi lebih inklusif.
"Zaman dulu itu orang kalau ingin belajar agama harus di pesantren, harus mondok, mengerti bahasa Arab. Mbah Soleh itu enggak usah mondok enggak apa-apa, yang penting ngulang mbek aku 'mengaji bersamaku' pakai bahasa Jawa pun bisa," jelasnya.
Bagi Ichwan, pola inilah yang selaras dengan semangat Kartini dalam membuka akses pendidikan bagi perempuan.
Tak hanya melalui tafsir, pengaruh itu juga disebut hadir dalam kitab Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam. Dalam kitab tersebut, membahas persoalan fiqih namun dengan penjelasan soal hakikat dan ma'rifat yang harus dikejar setelah seorang mengerti tentang syariat.
"Nah menurut Profesor Sri Suhandjati Sukri, feminisme Kartini dipengaruhi oleh kitab ini. Wanita itu harus diajarkan membatik, menjahit, dan diajarkan membaca meskipun enggak menulis. Luar biasa zaman dulu," terangnya.
Pada akhir abad ke-19, lanjutnya, gagasan semacam ini tergolong progresif. Ketika perempuan kerap dibatasi pada ranah domestik, Sholeh Darat justru menekankan pentingnya keterampilan dan literasi sebagai bekal kemandirian.
"Kebanyakan zaman dulu itu wanita itu pokoknya masak, macak, manak. Waktu Mbah Sholeh itu kitab ini progresif banget. Wanita itu harus diajarkan membatik, menjahit. Berarti kan kemandirian. Itu progresif zaman dulu," ungkapnya.
Selain gagasan pendidikan dan perempuan, Sholeh Darat juga dikenal tegas dalam sikap terhadap penjajahan. Dalam sejumlah tulisannya, ia mengingatkan umat agar tidak tunduk pada kolonialisme. Semangat anti-penjajahan dan cinta tanah air itu pula yang diyakini menginspirasi murid-muridnya.
"Ternyata setelah kita buka kitab-kitabnya, quote-quote-nya, Mbah Sholeh Darat itu mengajarkan sesuatu yang dicontoh oleh muridnya. Nah, misalnya tentang mengajarkan anti penjajah. Mbah Hasyim Asy"ari juga sama, di kitab-kitabnya Mbah Hasyim juga anti penjajah. Beliau mencintai tanah air dan persatuan," imbuhnya. (idy)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Makam-KH-Sholeh-Darat-semarang.jpg)