Berita Jateng
Sejarah KH Sholeh Darat Semarang dan Hubungannya dengan Kartini
Ulama kelahiran Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara ini dikenal sebagai guru para ulama besar
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Siang beranjak sore itu, hujan baru saja reda, Kamis. Tanah di kompleks TPU Bergota, Randusari, Kecamatan Semarang Selatan masih basah. Aroma tanah lembap menguar di antara deretan nisan.
Hujan bercampur angin sore itu menyisakan langit yang masih kelabu, menandakan hujan masih tiba-tiba saja terjadi. Namun, hal itu tak mengurungkan langkah peziarah ke makam Kyai Sholeh Darat.
Dimas Bayu Prabowo, baru saja selesai berziarah. Langkahnya mantap, pandangannya seakan akrab dengan area tersebut.
"Saya kebetulan ke makam Mbah Sholeh Darat seminggu sekali, waktu hari Kamis," kata Dimas yang berziarah seorang diri, Kamis (19/2/2026).
Dimas mengatakan, meski kini memasuki awal Ramadan, dia tetap menjalankan rutinitasnya mengunjungi makam Kyai Sholeh Darat.
Ia mengaku selalu merasakan ketenangan setiap kali selesai berdoa di makam ulama besar tersebut.
"Intinya setelah dari sini saya lebih tenang, lebih enak. Rasanya kegiatan saya juga jadi lebih enteng," katanya.
Ziarah yang ia lakukan, menurutnya, diniatkan untuk mendoakan sang ulama. Menurutnya, sebagai salah satu ulama besar di Semarang, Kyai Sholeh Darat dikenal luas sebagai guru dari banyak tokoh penting dan penyebar ajaran Islam di Jawa.
Sosoknya dihormati bukan hanya karena keilmuannya, tetapi juga karena perannya dalam membumikan ajaran Islam di tengah masyarakat.
"Saya datang untuk mendoakan beliau, beliau kan juga Waliyullah 'Wali Allah', harapannya mendapat karomah," ucapnya.
Di awal bulan Ramadan seperti saat ini, peziarah memang tak sebanyak hari-hari sebelumnya terutama saat mendekati bulan Ramadan.
Sumiati, satu di antara juru kunci makam menuturkan, peningkatan jumlah peziarah biasanya terjadi sejak bulan Ruwah atau Syakban.
Tradisi nyadran yang dilakukan masyarakat Jawa menjadi momentum untuk mendoakan leluhur sekaligus berziarah ke makam ulama besar.
"Yang berziarah ke Mbah Sholeh kebetulan kalau Ruwah sangat banyak. Apalagi dengan kondisi sekarang yang sudah disentuh oleh pemerintah: ada joglonya, agak lebar, itu semakin menambah peziarah," terangnya Sumiati.
Meski tidak seramai saat tradisi nyadran atau menjelang Ramadan, lanjutnya, arus peziarah tetap mengalir setiap harinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Makam-KH-Sholeh-Darat-semarang.jpg)