Senin, 20 April 2026

Berita Jateng

Sejarah KH Sholeh Darat Semarang dan Hubungannya dengan Kartini

Ulama kelahiran Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara ini dikenal sebagai guru para ulama besar

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: khoirul muzaki
Istimewa
Makan KH Sholeh Darat Semarang 


"Jadi tidak ada hari tertentu harus bersama-sama (untuk berziarah), itu tidak. Jadi tiap hari, tiap minggu, di mana ada kesempatan libur ya ke makam," ungkapnya.


Menurutnya, sejauh ini peziarah yang datang tidak hanya berasal dari Kota Semarang dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai daerah di luar kota hingga luar provinsi.


Ia menyebutkan, rombongan dari Jawa Timur seperti Kediri, Lamongan, Surabaya, dan Pacitan kerap datang silih berganti. Dari Jawa Barat, peziarah juga datang seperti dari Indramayu dan Cirebon.


Adapun dari Jawa Tengah, menurutnya hampir setiap hari ada rombongan dari Kendal, Kaliwungu, Kudus, hingga Brebes.


"Alhamdulillah, tidak diatur tapi mereka itu seperti bisa terbentuk. Jadi oh (misal) tiba-tiba minggu ini ada rombongan dari mana gitu: dari Jawa Timur. Nah, besoknya atau belakangnya itu kok ada dari Kediri, dari Lamongan, kemudian dari Surabaya, dan sebagainya," bebernya.


Tak hanya masyarakat umum, sejumlah pejabat juga pernah berziarah ke makam yang berada di TPU Bergota tersebut.


"Pejabat banyak yang datang, Alhamdulillah. Apalagi kalau musim Caleg ya," ungkapnya.


Menurut Sumiati, nama besar Kyai Sholeh Darat memang memiliki pengaruh luas di Nusantara. Ulama kelahiran Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara ini dikenal sebagai guru para ulama besar.


Ia merupakan sosok yang menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Arab Pegon pada masa penjajahan Belanda.


Cara tersebut menjadi strategi dakwah agar ajaran Islam tetap dapat disebarkan meski aktivitas pendidikan dan pengajian saat itu mendapat pembatasan dari pemerintah kolonial.


"Jadi pada masa itu, pada masa penjajahan Belanda, di mana sekolah dilarang, kemudian pengajian dilarang, bagaimana caranya Mbah Sholeh Darat itu bisa siar agama ke masyarakat tanpa dilarang oleh Belanda yaitu dengan menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa lewat tulisan Arab pegon, dan ini berhasil," ucapnya.


Selain dikenal sebagai penerjemah Al-Qur’an, Kiai Soleh Darat juga produktif menulis kitab, yang mana belasan karyanya telah ditemukan.


Pengaruhnya semakin kuat karena sejumlah tokoh besar pernah berguru kepadanya. Di antaranya adalah KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, serta KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.


Tokoh emansipasi perempuan Raden Ajeng Kartini juga disinyalir kuat sebagai salah satu muridnya.

 

Baca juga: Jadwal Salat dan Berbuka Puasa Kabupaten Wonosobo Hari Ini Sabtu 21 Februari

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 2/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved