Jumat, 24 April 2026

Berita Jateng

Sejarah KH Sholeh Darat Semarang dan Hubungannya dengan Kartini

Ulama kelahiran Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara ini dikenal sebagai guru para ulama besar

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: khoirul muzaki
Istimewa
Makan KH Sholeh Darat Semarang 


Pengaruhi Pemikiran Kartini? 


Sekretaris Komunitas Pecinta Sholeh Darat (Kopisoda), Mochamad Ichwan menjelaskan, sosok Sholeh Darat bukan semata sebagai ulama abad ke-19, tetapi juga figur intelektual yang gagasan-gagasannya ikut membentuk cara pandang Kartini tentang pendidikan, pencerahan, dan peran perempuan.


Menurut Ichwan, pengaruh itu memang tidak selalu tertulis secara eksplisit dalam dokumen sejarah.


Dalam surat-suratnya, Kartini lebih sering menyebut "Romo Kiai" tanpa nama. Namun, sejumlah penelusuran menunjukkan keterkaitan kuat antara keduanya.


Selain hidup sezaman, yakni Sholeh Darat wafat pada 1903 dan Kartini setahun kemudian pada 1904, keduanya berada dalam lingkar sosial yang beririsan di kawasan pesisir Jawa, khususnya Jepara dan Semarang.


Sholeh Darat dikenal rutin mengisi pengajian di kalangan elite, termasuk di pendopo-pendopo kabupaten seperti Demak dan Jepara.


Ichwan menuturkan, salah satu momen yang kerap dirujuk adalah ketika Kartini akhirnya memahami makna Surah Al-Fatihah.


Sebelumnya, ia sempat mempertanyakan mengapa Al-Qur’an hanya diajarkan untuk dibaca tanpa dijelaskan artinya.


"Kartini waktu masih kecil ngaji kan tanya ustaznya di kampung 'Pak, mbok dikasih tahu artinya Al-Qur'an itu apa?' Namun waktu itu ya 'sing penting iso moco entuk ganjaran' (yang penting membaca, mendapat pahala). Nah pas masih kecil itu Kartini menyebut kalau guru ngajinya itu ya Pak Ustaz saja. Tapi begitu dia tahu tentang makna Al-Fatihah, kemudian memanggil kiai.


Diduga pasti orang sepuh ini. Kami sampai saat ini masih menyepakatinya itu adalah Mbah Sholeh Darat," terangnya.


Dalam berbagai suratnya, Kartini kemudian berulang kali menyinggung gagasan tentang "keluar dari kegelapan menuju cahaya", yang sejalan dengan makna Surah Al-Baqarah ayat 257. Pemahaman tersebut diyakini diperolehnya dari pengajian sang kiai.


"Jadi waktu itu Kartini sering menyurati dengan bahasa Belanda: Door Duisternis tot Licht. Itu kan dari ayat Al-Qur'an 'Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya'. Nah, ternyata setelah semua kalimat itu diterjemahkan lagi jadi 'habis gelap terbitlah terang'," jelasnya.


Ichwan menjelaskan, Sholeh Darat memang dikenal mengambil langkah berbeda pada masanya. Ketika pengajaran agama identik dengan pesantren dan bahasa Arab, ia justru menulis kitab-kitabnya dalam bahasa Jawa.


Sedikitnya 15 karya berhasil diidentifikasi. Di antaranya terkait fikih, tasawuf, hingga tafsir Al-Qur’an. Karya monumentalnya, Faidh al-Rahman, disebut sebagai salah satu tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa pertama di Nusantara. Kitab ini ditulis pada 5 Rajab 1309H/1891M. Kitab ini terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai Ibrahim.


Waktu itu, jelasnya, penjajah Belanda melarang orang menerjemahkan Al-Qur'an dan para ulama juga mengharamkannya. Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini. Karena permintaan Kartini dan panggilan untuk berdakwah, Mbah Sholeh Darat menerjemahkan dengan ditulis dalam huruf arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 3/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved