Beriita Jateng
Dikukuhkan Hari Ini, Daftar 10 Guru Besar Baru UIN Walisongo
pengukuhan guru besar merupakan ritus akademik yang menjadi bagian integral dalam kehidupan perguruan tinggi
Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra | Editor: khoirul muzaki
1. Dr. Abdul Muhaya, M.A (Bidang Tasawuf Falsafi).
Prof. Dr. H. Abdul Muhaya, M.A., menegaskan bahwa konsep Wahdat al-Syuhud merupakan puncak kesadaran tauhid dalam tradisi tasawuf yang berdampak langsung pada kebahagiaan dan kesejahteraan manusia (human flourishing).
Menurutnya, tauhid dalam perspektif sufistik tidak berhenti pada pengakuan lisan atau pemahaman rasional, tetapi berkembang menjadi pengalaman batin yang menghadirkan kesadaran akan keesaan Allah dalam seluruh realitas kehidupan.
Pada tahap ini, seorang sufi tidak menafikan keberagaman dunia, tetapi menyaksikan segala sesuatu sebagai tanda-tanda Ilahi.
Ia merujuk pemikiran Imam al-Ghazali yang membagi tauhid dalam beberapa tingkatan, dari pengakuan formal hingga kesadaran spiritual tertinggi yang sepenuhnya terarah kepada Allah. Dalam kondisi tersebut, ego mengalami peluruhan (fana’ al-syuhud), dan yang tersisa adalah kesadaran mendalam akan kehadiran Tuhan.
Secara terminologis, Wahdat al-Syuhud berarti “kesatuan penyaksian”.
Konsep ini menegaskan bahwa yang satu bukanlah wujud makhluk dan Tuhan secara ontologis, melainkan kesatuan dalam pengalaman kesadaran spiritual. Seorang sufi tidak melihat selain Allah dalam perspektif batinnya, meski secara faktual pluralitas tetap ada.
Abdul Muhaya menjelaskan, kesadaran ini melahirkan nilai-nilai kebahagiaan yang bersifat stabil dan transenden.
Kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya membentuk sikap optimisme, makna hidup yang jelas, serta ketenangan batin. Kondisi tersebut menjadi fondasi kesehatan holistik—fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Ia juga menyinggung pengakuan World Health Organization (WHO) yang secara konseptual memasukkan dimensi spiritual sebagai bagian penting dari kualitas hidup dan kesehatan.
Spiritualitas dinilai berkontribusi terhadap ketahanan mental, pengurangan stres, serta peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh.
Dalam perspektif tasawuf, spiritualitas merupakan inti terdalam manusia yang disebut lathifah ruhaniyah rabbaniyah. Unsur ini menjadi pusat kesadaran yang mengarahkan akal, emosi, dan perilaku agar selaras dengan nilai-nilai Ilahi.
“Ketika kesadaran wahdat al-syuhud teraktualisasi, manusia tidak hanya mengalami kedalaman iman, tetapi juga mencapai kebahagiaan paripurna yang menata jiwa dan tubuh secara harmonis,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Gedung-UIN-Walisongo-Semarang.jpg)