Berita Jateng
Tari Babalu Batang, Terlihat Menari Tapi Latihan Militer untuk Usir Penjajah
Nama Babalu diyakini berasal dari frasa 'Aba-aba Dahulu', merujuk pada komando peluit sebagai penentu setiap perubahan gerak
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, BATANG - Suara peluit itu terdengar singkat, tajam, dan tegas, dalam hitungan detik, para penari di atas panggung bergerak serempak, lincah, dan penuh tenaga.
Kacamata hitam, topi kupluk berkuncir, serta kaos kaki setinggi lutut memberi kesan nyentrik, seolah mereka bukan penari, melainkan agen rahasia dalam sebuah operasi senyap.
Namun bagi Tatik Setianingsih, setiap bunyi peluit dalam Tari Babalu adalah gema sejarah.
Di sanggar kecil miliknya di Desa Tatik, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, perempuan itu setia meniupkan kembali ingatan kolektif tentang perlawanan rakyat Batang terhadap penjajah.
“Tari Babalu itu bukan sekadar tari. Isinya gerakan silat, simbol perjuangan. Peluit itu aba-aba. Begitu ‘prit’, gerak harus ganti. Itu tanda strategi melawan penjajah,” kata Tatik, kepada Tribunjateng, Rabu (7/1/2026).
Tarian, Sandi, dan Perlawanan
Tari Babalu lahir sekitar era 1940-an, di tengah situasi kolonial yang menekan.
Masyarakat Batang kala itu menyamarkan latihan bela diri dalam bentuk tarian.
Nama Babalu diyakini berasal dari frasa 'Aba-aba Dahulu', merujuk pada komando peluit sebagai penentu setiap perubahan gerak.
Gerakannya bukan sekadar estetika.
Ada simbol menumbuk racun, menyergap musuh, hingga teknik bertahan diri.
Semua dikemas dalam koreografi berdurasi sekitar tujuh menit, namun sarat makna heroisme.
“Dulu ini cara rakyat berlatih melawan penjajah tanpa dicurigai. Jadi kelihatannya menari, padahal latihan perang,” ujarnya.
Nyentrik, Maskulin, dan Berkarakter
Sekilas, Babalu sering disamakan dengan kesenian Sintren.
Namun Tatik menegaskan, ruh Babalu jauh berbeda. Lebih maskulin, gagah, dan tegas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/penari-babalu-batang.jpg)