Kamis, 21 Mei 2026

Berita Jateng

Tari Babalu Batang, Terlihat Menari Tapi Latihan Militer untuk Usir Penjajah

Nama Babalu diyakini berasal dari frasa 'Aba-aba Dahulu', merujuk pada komando peluit sebagai penentu setiap perubahan gerak

Tayang:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: khoirul muzaki
Tribun Jateng
PENARI - Sejumlah penari menari tari Babalu saat pentas di sebuah acara di Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang. 


“Memang Batang itu agak bau Sintren, tapi Babalu beda. Pakaiannya seperti tentara yang menyamar. Topinya ada kuncir. Ini tarian perjuangan,” jelasnya.


Menariknya, meski identik dengan gerakan keras dan tegas, Babalu secara tradisional justru ditarikan oleh perempuan.


Kini, penari laki-laki mulai ikut ambil bagian, menambah warna dalam pelestarian kesenian ini.


Di Sanggar Merti Desa, Babalu menjadi tarian wajib bagi penari pemula. 


Bagi Tatik, mengajarkan Babalu bukan pilihan, melainkan kewajiban.


“Ini identitas Batang. Kalau ada tamu dari luar kota, hampir pasti mintanya Babalu. Karena beda, karena berkarakter,” tegasnya.


Dari Sanggar ke Pengakuan Nasional
Setelah sempat redup, Tari Babalu kembali menggeliat sejak 1998 dan mencapai puncak popularitas di era 2000-an. 


Kini, perjuangan baru dimulai, mengantarkan Babalu menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.


Pemerintah Kabupaten Batang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah merampungkan seluruh berkas pengusulan. 


Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Batang, Camelia Dewi, optimistis Babalu memiliki kekuatan besar untuk diakui secara nasional.


“Babalu memenuhi syarat karena sudah ada sejak 1940-an dan menjadi identitas Batang. Setahu saya, kesenian ini tidak ditemukan di daerah lain,” ujarnya.


Dokumen naskah akademik, foto, hingga video pementasan telah dikirim ke pusat. 


Jika proses berjalan lancar, pada 2026 mendatang, Tari Babalu akan menyusul Serabi Kalibeluk, Nyadran Gunung, dan Batik Rifaiyah sebagai warisan budaya nasional.


Bagi Tatik dan para pelaku seni di Batang, pengakuan itu bukan sekadar gelar.


“Yang penting, anak cucu nanti masih dengar suara peluit itu. Supaya mereka tahu, seni pernah jadi senjata perjuangan,” ucapnya.


Di Batang, peluit itu tak lagi memanggil perlawanan fisik. 


Namun kini, ia memanggil ingatan, identitas, dan kebanggaan sebuah daerah yang berjuang lewat gerak dan irama. (Ito)

 

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved