Berita Jateng
Kisah Polisi di Pati Jadi Dukun Ulo, Banyak Warga Digigit Ular Malah Dibawa ke Kantor Polisi
Awal Desember ini saja, sudah ada enam orang yang datang berobat. Kalau sepanjang tahun bisa sampai 50-60 orang
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: khoirul muzaki
Pasien Petani
Kebanyakan pasien Aiptu Pudiyanto berasal dari kalangan petani. Mayoritas mereka dipatuk ular saat tengah bekerja di sawah.
Barangkali tidak banyak yang mengetahui, bagi kalangan petani, gigitan ular adalah risiko yang selalu ada. Terutama saat musim penghujan.
Tak hanya menjadi berkah untuk mengairi sawah, musim hujan juga menjadi alarm waspada. Saat air menggenangi liang-liang tanah, dan penghuni “dunia bawah” terusik, mereka akan keluar dari sarang dan melakukan mekanisme pertahanan diri.
Cipud menyebut, “Awal Desember ini saja, sudah ada enam orang yang datang berobat. Kalau sepanjang tahun bisa sampai 50-60 orang.”
“Jadi sebetulnya saya ini mendukung program pemerintah terkait ketahanan pangan. Karena saya membantu para petani,” ucap dia berkelakar.
Melanggengkan Manfaat
Aiptu Pudiyanto mengisahkan, dirinya mewarisi ilmu penyembuhan ini dari sang ayah saat menginjak usia 17 tahun. Sebab, secara tradisi sejak generasi-generasi sebelumnya, syarat untuk mengestafetkan keahlian ini adalah sang pewaris harus sudah berusia 17 tahun.
Demi menjaga kelanggengan manfaat bagi sesama, dirinya juga telah mewariskan ilmunya kepada putranya.
“Sudah saya turunkan ilmunya ke anak saya yang ketiga. Belum lama ini, karena baru tahun ini anak saya masuk usia 17. Saya juga sampaikan amanah keluarga: tidak boleh pamrih, harus tulus ikhlas. Masalah rezeki, Allah yang ngasih,” tegas dia.
Meski sudah memastikan regenerasi, Cipud berkomitmen, selagi masih ada umur dan kesempatan, dirinya akan terus berupaya membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya.
“Kalau ada yang mau berobat, saya selalu siap. Kalau pas saya dinas, ya, di Polsek. Kalau tidak, ya, di rumah saya,” ungkap dia.
Ditanya apa yang menjadi motivasinya, Cipud terdiam sesaat. Setelah menghela napas cukup dalam, dia berkata, yang dicarinya adalah pahala sebanyak-banyaknya.
“Mudah-mudahan bisa menebus dosa-dosa saya. Selain itu juga membawa kebaikan untuk saya, keluarga saya, dan institusi Polri,” tandas dia.
Apresiasi
Kapolsek Jakenan, AKP Agus Arifin, menyebut kemampuan Cipud sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat yang unik namun nyata.
“Saya sangat mengapresiasi anggota saya, Pak Pudiyanto, yang sebagai anggota Polri telah memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan keterampilan khususnya,” kata dia.
Menurut Agus, 29 tahun lebih masa pengabdian di Polsek Jakenan membuat Cipud sangat dekat dan dicintai masyarakat.
“Beliau ini sangat humanis. Masyarakat sangat mengenal dan menyukai beliau. Kalau saya ke desa-desa, warga selalu menanyakan Pak Cipud,” ucap dia.
Kapolresta Pati, Kombes Pol Jaka Wahyudi, juga menyampaikan penghargaan atas kontribusi Cipud dalam memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi dedikasi Aiptu Pudiyanto yang telah berkontribusi nyata di luar tugas pokoknya sebagai anggota Polri. Keahlian yang beliau miliki menjadi bentuk nyata dari semangat pengabdian Polri yang hadir dan bermanfaat di tengah masyarakat,” tandas dia. (mzk)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/polisi-dukun-ular.jpg)