Berita Jateng
Kisah Polisi di Pati Jadi Dukun Ulo, Banyak Warga Digigit Ular Malah Dibawa ke Kantor Polisi
Awal Desember ini saja, sudah ada enam orang yang datang berobat. Kalau sepanjang tahun bisa sampai 50-60 orang
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, PATI – Suatu hari pada 1996, ketegangan terjadi di Markas Kepolisian Sektor (Polsek) Jakenan, Pati, Jawa Tengah. Ratusan warga tiba-tiba datang menggeruduk.
Pemicunya adalah sepotong kabar simpang siur: seorang warga Desa Mantingan Tengah, Kecamatan Jakenan, dibawa ke Polsek.
Sebagaimana diketahui, saat itu Polri masih menjadi bagian dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Kondisi sosial-politik pada masa itu membuat masyarakat bereaksi keras ketika mendengar ada warga yang “dibawa” ke kantor polisi.
“Waktu itu ada ratusan orang datang ke Polsek. Tahun-tahun itu, menjelang reformasi, memang sering ada ramai-ramai demo. Jadi mereka datang itu, ya, seperti orang mau demo,” kata anggota Polsek Jakenan, Aiptu Pudiyanto (54), saat diwawancarai TribunJateng.com, Kamis (11/12/2025).
Ketika itu, memang ada seorang pria berusia 30-an yang dibawa ke Polsek Jakenan. Namun, bukan karena pria itu terjerat kasus kriminal atau menjadi “korban” represi. Melainkan karena dia baru saja menjadi korban gigitan ular berbisa.
“Ceritanya waktu itu Dinas Pengairan ada kegiatan kerja bakti bersama warga, membersihkan selokan. Tiba-tiba ada satu warga yang digigit ular. Nah, teman dari korban itu tahu bahwa saya bisa mengobati,” ucap pria yang akrab disapa Cipud ini.
Cipud yang sudah hampir 30 tahun berdinas di Polsek Jakenan memang memiliki keterampilan pengobatan tradisional untuk menyembuhkan korban gigitan/sengatan berbagai hewan berbisa, khususnya ular.
Keahlian turun-temurun itu diwarisinya dari mendiang sang ayah, Sukarno, sejak dirinya masih remaja.
Baca juga: Wajib Menang Besar Lawan Myanmar, Nasib Timnas Indonesia U-22 di Ujung Tanduk SEA Games
Tahun 1996 adalah tahun pertamanya bertugas di Polsek Jakenan. Warga Desa Mantingan Tengah merupakan “pasien” pertamanya setelah menjadi polisi.
“Istri dari korban itu mendengar bahwa suaminya digigit ular lalu dibawa ke Polsek. Dia bingung, lalu laporan ke kepala desa. Kepala desanya juga bingung. Digigit ular, kok, dibawa ke kantor polisi. Karena itulah lalu warga desa ramai-ramai ke sini,” kenang dia.
Ketegangan pun lenyap seketika begitu warga tahu bahwa ternyata di Polsek Jakenan ada “dukun ular”, begitu kemudian Cipud dikenal.
“Begitu saya jelaskan, mereka langsung bilang, ‘Oh, jebule ono dukun ulo’ (Oh, ternyata ada dukun ular),” ucap dia diiringi tawa kecil dan senyum semringah.
Sejak peristiwa itu, Aiptu Pudiyanto makin lama kian tersohor sebagai ahli pengobatan tradisional untuk korban gigitan ular.
Warga Pati, terutama di wilayah Kecamatan Jakenan dan Juwana, mengenalnya sebagai tabib spesialis bisa ular yang ampuh.
Saking ampuhnya metode pengobatan tradisional Cipud, kerap kali fasilitas kesehatan justru “merujuk” pasien gigitan ular untuk berobat padanya.
Hal itu seperti yang belum lama ini dialami Sutopo (67), warga Desa Dukuhmulyo, Kecamatan Jakenan.
Sekira empat bulan lalu, pangkal jari tengah kanannya dipatuk ular. Saat itu, dia tengah membabat rumput liar di halaman belakang rumah. Tanpa peringatan, seekor ular hijau ekor merah melesat dari balik rerumputan dan menancapkan taringnya.
“Seketika rasanya sakit luar biasa. Sakit semua. Seluruh badan rasanya sakit,” kata dia saat diwawancarai TribunJateng.com di Mapolsek Jakenan, Kamis (11/12/2025).
Di tengah kepanikan dan rasa sakit tak tertahankan, Sutopo dilarikan oleh keluarganya ke Puskesmas setempat. Uniknya, pihak Puskesmas juga menyarankannya untuk datang ke Polsek Jakenan.
“Saat itu kebetulan Pak Cipud sedang jaga. Tangan saya langsung dibelek (disayat sedikit), lalu racunnya disedot oleh beliau,” tutur dia.
Menurut Sutopo, tak ada obat yang diberikan padanya selain air kembang. Setelah itu, yang terjadi terasa seperti keajaiban. Hanya berselang sekira setengah jam, rasa sakit yang sempat meremukkan tubuhnya berangsur sirna.
“Kira-kira 10 menit sudah agak mendingan. Setengah jam sudah sembuh,” kata dia sambil terkekeh, seolah masih tak percaya nyawanya terselamatkan hanya bermodal mulut seorang polisi dan air kembang.
Turun-Temurun
Aiptu Pudiyanto menjelaskan, untuk mengobati korban gigitan ular, “alat kelengkapannya” cukup sederhana. Dia hanya membutuhkan air hangat, sebilah silet kecil, dan kembang telon (bunga kenanga, gading, dan melati) sebagai “syarat” wewangian.
Pertama-tama, Cipud akan membersihkan bekas gigitan ular dengan air hangat. Kemudian, tak ubahnya ahli bedah jalanan, ia akan menyayat kecil bekas gigitan ular pada tubuh korban.
Selanjutnya, tanpa ragu, dengan mulutnya dia menyedot keluar racun mematikan dari aliran darah korban, lalu membuangnya. Tak jarang, darah yang dia isap bercampur nanah.
“Kalau orang lihat mungkin jijik. Namun niat saya tulus, ikhlas menolong sesama. Kebetulan profesi saya juga polisi. Bersentuhan dengan masyarakat, melayani masyarakat,” tutur dia.
Selanjutnya, bunga tiga rupa atau kembang telon akan dia rendam dengan air bersih, dia rapalkan doa, dan dia minta pasien untuk meminumnya.
Aiptu Pudiyanto bersyukur, selama ini atas karunia Tuhan Yang Mahaesa semua pasiennya bisa sembuh.
“In syaa Allah semua sembuh. Termasuk yang agak parah, digigit kobra. Namun khusus untuk korban gigitan ular kobra, biasanya tetap saya sarankan ke rumah sakit. In syaa Allah dalam satu jam saya obati untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi karena biasanya terjadi pembusukan, tetap saya sarankan masuk rumah sakit,” jelas dia.
Cipud bersyukur, keahliannya ini bisa menjadi perantara kesembuhan bagi banyak orang. Tak hanya dari Pati, melainkan juga dari luar daerah, bahkan luar negeri.
“Pernah ada TKI ke sini, majikannya di luar negeri digigit ular. Waktu itu saya coba bantu pengobatannya pakai media video call. Mungkin karena niat saya tulus menolong, karunia Allah, bisa sembuh juga,” ucap dia.
Tanpa Pamrih
Saat mewarisi ilmu pengobatan tradisional ini dari orang tuanya, Aiptu Pudiyanto mendapat pesan khusus: jangan memasang tarif.
“Niatnya harus tulus dan ikhlas. Tidak boleh menarif. Kadang kalau yang datang berobat orang kurang mampu, malah saya kasih ongkos ngojek,” kata dia.
Namun, tanpa dia harapkan, tak jarang pasien yang berhasil dia sembuhkan di kemudian hari datang bersilaturahim ke kediamannya di Desa Tluwah, Kecamatan Juwana. Bahkan, ada satu orang yang pernah menunaikan nazar untuk menginap di rumahnya karena berhasil sembuh dari gigitan ular kobra.
Salah satu pasien Cipud, Nurul Huda, mengonfirmasi bahwa sang “dukun ulo” memang tidak pernah mematok tarif untuk jasa pengobatannya. Bahkan, pengalamannya dulu, dia malah dijamu dengan aneka hidangan ketika berobat ke rumah Cipud di Juwana.
Nurul Huda mengalami gigitan ular hijau ekor merah suatu hari pada musim penghujan tahun 2023. Kejadiannya berlangsung begitu cepat di halaman rumahnya di Rendole, Pati.
“Saya baru turun mobil. Cepat sekali tiba-tiba ada ular hijau, ekornya merah, mematuk jempol kaki kiri saya. Tidak sampai satu menit kemudian, rasanya kuwemeng (sakit berdenyut hebat) disertai gatal. Lalu bekas gigitannya membengkak, sakitnya menjalar sampai ke pangkal paha. Saya sampai tidak bisa jalan. Ke mana-mana harus digendong,” kata guru SMPN 3 Pati ini saat dihubungi TribunJateng.com via sambungan telepon, Kamis (11/12/2025).
Setelah itu, Huda mendatangi tiga rumah sakit berbeda. Sayangnya, tidak ada stok serum antibisa ular di ketiga rumah sakit tersebut. Dia pun mencoba berbagai jenis pengobatan alternatif. Namun hasilnya nihil. Bengkak di kakinya justru kian membesar dan membiru.
Lalu, dua pekan pascadigigit ular, ada seorang teman yang menyarankannya berobat ke Aiptu Pudiyanto.
“Di sana kaki saya yang bekas digigit ular dikasih air mendidih, lalu disilet dan dicucup (diisap) bisanya. Setelah itu rasanya agak kendo (rileks/ringan),” jelas Huda.
Setelah itu, beberapa hari berselang dia melakukan kontrol dan mendapatkan prosedur pengobatan yang sama. Hasilnya, tiga hari pascakontrol, bengkak di kakinya mengempis. Kondisinya pun berangsur membaik hingga sembuh total.
Selain kagum dengan keahlian Pudiyanto, Huda juga bersimpati pada karakter sang polisi.
“Beliau orangnya ramah sekali. Saya waktu berobat disogati (dijamu) macam-macam. Beliau juga tidak narif sama sekali,” tandas dia.
Pasien Petani
Kebanyakan pasien Aiptu Pudiyanto berasal dari kalangan petani. Mayoritas mereka dipatuk ular saat tengah bekerja di sawah.
Barangkali tidak banyak yang mengetahui, bagi kalangan petani, gigitan ular adalah risiko yang selalu ada. Terutama saat musim penghujan.
Tak hanya menjadi berkah untuk mengairi sawah, musim hujan juga menjadi alarm waspada. Saat air menggenangi liang-liang tanah, dan penghuni “dunia bawah” terusik, mereka akan keluar dari sarang dan melakukan mekanisme pertahanan diri.
Cipud menyebut, “Awal Desember ini saja, sudah ada enam orang yang datang berobat. Kalau sepanjang tahun bisa sampai 50-60 orang.”
“Jadi sebetulnya saya ini mendukung program pemerintah terkait ketahanan pangan. Karena saya membantu para petani,” ucap dia berkelakar.
Melanggengkan Manfaat
Aiptu Pudiyanto mengisahkan, dirinya mewarisi ilmu penyembuhan ini dari sang ayah saat menginjak usia 17 tahun. Sebab, secara tradisi sejak generasi-generasi sebelumnya, syarat untuk mengestafetkan keahlian ini adalah sang pewaris harus sudah berusia 17 tahun.
Demi menjaga kelanggengan manfaat bagi sesama, dirinya juga telah mewariskan ilmunya kepada putranya.
“Sudah saya turunkan ilmunya ke anak saya yang ketiga. Belum lama ini, karena baru tahun ini anak saya masuk usia 17. Saya juga sampaikan amanah keluarga: tidak boleh pamrih, harus tulus ikhlas. Masalah rezeki, Allah yang ngasih,” tegas dia.
Meski sudah memastikan regenerasi, Cipud berkomitmen, selagi masih ada umur dan kesempatan, dirinya akan terus berupaya membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya.
“Kalau ada yang mau berobat, saya selalu siap. Kalau pas saya dinas, ya, di Polsek. Kalau tidak, ya, di rumah saya,” ungkap dia.
Ditanya apa yang menjadi motivasinya, Cipud terdiam sesaat. Setelah menghela napas cukup dalam, dia berkata, yang dicarinya adalah pahala sebanyak-banyaknya.
“Mudah-mudahan bisa menebus dosa-dosa saya. Selain itu juga membawa kebaikan untuk saya, keluarga saya, dan institusi Polri,” tandas dia.
Apresiasi
Kapolsek Jakenan, AKP Agus Arifin, menyebut kemampuan Cipud sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat yang unik namun nyata.
“Saya sangat mengapresiasi anggota saya, Pak Pudiyanto, yang sebagai anggota Polri telah memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan keterampilan khususnya,” kata dia.
Menurut Agus, 29 tahun lebih masa pengabdian di Polsek Jakenan membuat Cipud sangat dekat dan dicintai masyarakat.
“Beliau ini sangat humanis. Masyarakat sangat mengenal dan menyukai beliau. Kalau saya ke desa-desa, warga selalu menanyakan Pak Cipud,” ucap dia.
Kapolresta Pati, Kombes Pol Jaka Wahyudi, juga menyampaikan penghargaan atas kontribusi Cipud dalam memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi dedikasi Aiptu Pudiyanto yang telah berkontribusi nyata di luar tugas pokoknya sebagai anggota Polri. Keahlian yang beliau miliki menjadi bentuk nyata dari semangat pengabdian Polri yang hadir dan bermanfaat di tengah masyarakat,” tandas dia. (mzk)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/polisi-dukun-ular.jpg)