Berita Jateng
Kisah Polisi di Pati Jadi Dukun Ulo, Banyak Warga Digigit Ular Malah Dibawa ke Kantor Polisi
Awal Desember ini saja, sudah ada enam orang yang datang berobat. Kalau sepanjang tahun bisa sampai 50-60 orang
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: khoirul muzaki
Cipud bersyukur, keahliannya ini bisa menjadi perantara kesembuhan bagi banyak orang. Tak hanya dari Pati, melainkan juga dari luar daerah, bahkan luar negeri.
“Pernah ada TKI ke sini, majikannya di luar negeri digigit ular. Waktu itu saya coba bantu pengobatannya pakai media video call. Mungkin karena niat saya tulus menolong, karunia Allah, bisa sembuh juga,” ucap dia.
Tanpa Pamrih
Saat mewarisi ilmu pengobatan tradisional ini dari orang tuanya, Aiptu Pudiyanto mendapat pesan khusus: jangan memasang tarif.
“Niatnya harus tulus dan ikhlas. Tidak boleh menarif. Kadang kalau yang datang berobat orang kurang mampu, malah saya kasih ongkos ngojek,” kata dia.
Namun, tanpa dia harapkan, tak jarang pasien yang berhasil dia sembuhkan di kemudian hari datang bersilaturahim ke kediamannya di Desa Tluwah, Kecamatan Juwana. Bahkan, ada satu orang yang pernah menunaikan nazar untuk menginap di rumahnya karena berhasil sembuh dari gigitan ular kobra.
Salah satu pasien Cipud, Nurul Huda, mengonfirmasi bahwa sang “dukun ulo” memang tidak pernah mematok tarif untuk jasa pengobatannya. Bahkan, pengalamannya dulu, dia malah dijamu dengan aneka hidangan ketika berobat ke rumah Cipud di Juwana.
Nurul Huda mengalami gigitan ular hijau ekor merah suatu hari pada musim penghujan tahun 2023. Kejadiannya berlangsung begitu cepat di halaman rumahnya di Rendole, Pati.
“Saya baru turun mobil. Cepat sekali tiba-tiba ada ular hijau, ekornya merah, mematuk jempol kaki kiri saya. Tidak sampai satu menit kemudian, rasanya kuwemeng (sakit berdenyut hebat) disertai gatal. Lalu bekas gigitannya membengkak, sakitnya menjalar sampai ke pangkal paha. Saya sampai tidak bisa jalan. Ke mana-mana harus digendong,” kata guru SMPN 3 Pati ini saat dihubungi TribunJateng.com via sambungan telepon, Kamis (11/12/2025).
Setelah itu, Huda mendatangi tiga rumah sakit berbeda. Sayangnya, tidak ada stok serum antibisa ular di ketiga rumah sakit tersebut. Dia pun mencoba berbagai jenis pengobatan alternatif. Namun hasilnya nihil. Bengkak di kakinya justru kian membesar dan membiru.
Lalu, dua pekan pascadigigit ular, ada seorang teman yang menyarankannya berobat ke Aiptu Pudiyanto.
“Di sana kaki saya yang bekas digigit ular dikasih air mendidih, lalu disilet dan dicucup (diisap) bisanya. Setelah itu rasanya agak kendo (rileks/ringan),” jelas Huda.
Setelah itu, beberapa hari berselang dia melakukan kontrol dan mendapatkan prosedur pengobatan yang sama. Hasilnya, tiga hari pascakontrol, bengkak di kakinya mengempis. Kondisinya pun berangsur membaik hingga sembuh total.
Selain kagum dengan keahlian Pudiyanto, Huda juga bersimpati pada karakter sang polisi.
“Beliau orangnya ramah sekali. Saya waktu berobat disogati (dijamu) macam-macam. Beliau juga tidak narif sama sekali,” tandas dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/polisi-dukun-ular.jpg)